Uji Coba Nuklir Perang Dingin dan Jejak Radiasi di Rantai Makanan
- 03 Agt 2026 11:27 WIB
- Sintang
RRI.CO.ID, Sintang – Antara 1953 dan 1958, Amerika Serikat, Inggris, dan Uni Soviet melakukan lebih dari 220 uji coba senjata nuklir di atmosfer. Dampaknya tidak hanya dirasakan di dekat lokasi pengujian, tetapi juga merambat jauh melalui rantai makanan hingga ke komunitas-komunitas yang sama sekali tidak terlibat dalam perlombaan senjata tersebut.
Mengutip JSTOR Daily, salah satu temuan paling mengejutkan dari era ini adalah bagaimana radiasi dari uji coba nuklir mencemari rusa kutub (caribou) di kawasan Arktik Kanada. Partikel radioaktif yang terlempar ke atmosfer turun ke tanah dan diserap oleh lumut (lichen), tanaman utama yang menjadi pakan rusa kutub sepanjang tahun. Karena lumut tidak memiliki akar yang mampu menyaring kontaminan dari tanah, lumut menyerap zat radioaktif secara langsung dari atmosfer. Rusa kutub yang memakan lumut dalam jumlah besar pun mengakumulasi partikel radioaktif, terutama Cesium-137, dalam dagingnya.
| Baca juga: Tips Agar Curly Rambut Tahan Lama |
Masalah ini tidak berhenti pada rusa. Masyarakat adat di Kanada utara, termasuk suku-suku yang telah bergantung pada daging rusa kutub sebagai sumber protein utama selama berabad-abad, turut terpapar radiasi melalui jalur makanan ini. Menurut ICAN (International Campaign to Abolish Nuclear Weapons), dalam laporannya tentang dampak uji coba nuklir terhadap ekosistem, bioakumulasi atau penumpukan zat radioaktif dalam rantai makanan menjadi ancaman yang secara konsisten meningkat dari satu tingkatan ke tingkatan berikutnya.
Pada 1962, ahli biologi William Pruitt dari Universitas Alaska Fairbanks menerbitkan laporan yang menyimpulkan bahwa seluruh rantai makanan di kawasan tersebut berpotensi terkontaminasi. Pemerintah Kanada merespons dengan membentuk jaringan pemantauan yang membagi wilayah utara negara itu ke dalam zona-zona geografis berdasarkan persebaran kawanan rusa. Peneliti mengambil sampel daging rusa sekaligus memantau kebiasaan makan dan sampel urin penduduk setempat. Pada 1965, paparan pada manusia diperkirakan mencapai puncaknya, dengan kadar Cesium-137 dalam daging rusa kutub tercatat 580 kali lebih tinggi dibandingkan dengan sampel unggas di Ottawa.
Fenomena serupa juga tercatat di Eropa beberapa dekade kemudian. Menurut Physics World, sekitar 25 persen sampel daging babi hutan di Bavaria, Jerman, masih mengandung Cesium-137 di atas batas regulasi Eropa, bahkan jika Chernobyl tidak pernah terjadi. Ini menunjukkan bahwa warisan kontaminasi dari uji coba nuklir atmosferik era Perang Dingin masih terus meresap ke dalam rantai makanan hingga hari ini melalui dua jalur yang terpisah: satu dari pengujian nuklir yang memuncak pada 1964, dan satu lagi dari Chernobyl 22 tahun sesudahnya.
Kisah rusa kutub yang terkontaminasi bukan sekadar catatan sejarah. Ia adalah pengingat bahwa keputusan yang diambil di pusat-pusat kekuasaan politik memiliki konsekuensi nyata yang bisa dirasakan ribuan kilometer jauhnya oleh komunitas yang tidak pernah punya suara dalam pengambilan keputusan tersebut.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....