Ritual Ngegok Namo, Tradisi Pemberian Nama Bayi yang Tetap Dilestarikan Suku Dayak
- 07 Jul 2026 19:56 WIB
- Sintang
RRI.CO.ID, Sintang - Masyarakat Suku Dayak Desa hingga kini masih melestarikan ritual adat Ngegok Namo atau Nelah Namo sebagai prosesi pemberian nama bagi anak yang baru lahir. Tradisi tersebut menjadi bagian dari warisan budaya yang terus dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Budayawan Dayak Desa asal Desa Pakak, Kecamatan Kayan Hilir, Petrus, mengatakan ritual Ngegok Namo menggunakan adat Belah Pinang untuk meresmikan nama kampung dan nama keturunan bagi seorang anak.
"Adat yang kami lampirkan ini menunjukkan bahwa buah pinang diberi mata, diberi muka, dan diberi nyawa sebagai gambaran manusia," ujar Petrus.
Ia menjelaskan, dalam prosesi tersebut darah ayam kampung dicampurkan dengan beras sengkalan sebagai syarat sah pengukuhan nama. Selain itu, keluarga juga wajib menyiapkan sesaji berupa ayam, nasi ketan (bomo), buah pinang, sirih, rokok isap, dan tuak.
| Baca juga: Asal-Usul Nama Hari |
Setelah itu, prosesi dilanjutkan dengan menyalakan lilin, ritual sabo, serta tabak semengan atau pemberian semangat. Ritual tersebut bertujuan agar anak terhindar dari marabahaya, penyakit, dan berbagai bentuk kesialan.
Menurut Petrus, ritual Ngegok Namo merupakan warisan leluhur yang memiliki makna sebagai doa dan harapan bagi kehidupan anak. Masyarakat berharap anak yang diberi nama dapat tumbuh sehat, berumur panjang, memperoleh rezeki yang melimpah, serta kelak mampu memberikan manfaat bagi keluarga maupun daerah.
Ia menambahkan, nama keturunan yang diberikan biasanya diambil dari nama kakek, paman, atau bibi yang telah berusia lanjut. Tradisi tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus menjaga keberlangsungan garis keturunan dalam masyarakat Dayak Desa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....