Terjebak FOMO di Era Digital: antara Keinginan Terlibat dan Dampak yang Menghantui
- 04 Mei 2026 15:09 WIB
- Sintang
RRI.CO.ID, Sintang - Fear of Missing Out (FOMO) menjadi fenomena yang semakin umum di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan media sosial. FOMO menggambarkan perasaan cemas atau takut tertinggal dari pengalaman, tren, atau momen yang dianggap penting oleh orang lain. Kehadiran berbagai platform digital yang menampilkan kehidupan secara real-time membuat individu terdorong untuk terus terhubung agar tidak merasa “ketinggalan”. Secara psikologis, FOMO merupakan ketakutan yang terus-menerus bahwa orang lain sedang menikmati pengalaman yang lebih menyenangkan tanpa kehadiran diri sendiri.
Media sosial memiliki peran besar dalam memperkuat FOMO. Setiap hari, pengguna disuguhi berbagai konten, mulai dari gaya hidup mewah, pencapaian karier, hingga aktivitas sosial yang tampak menyenangkan. Tanpa disadari, hal ini menciptakan tekanan sosial tersendiri. Banyak orang kemudian merasa perlu mengikuti tren tertentu, menghadiri berbagai acara, atau membeli produk tertentu hanya demi merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.
Namun, mengikuti tren semata karena dorongan FOMO bukan tanpa konsekuensi. Dari sisi kesehatan mental, FOMO dapat memicu stres, kecemasan, bahkan perasaan tidak puas terhadap diri sendiri. Individu cenderung membandingkan hidupnya dengan orang lain yang terlihat “sempurna” di media sosial, padahal kenyataannya belum tentu demikian. Perbandingan ini dapat menurunkan rasa percaya diri dan memunculkan perasaan kurang berharga.
Dampak finansial juga menjadi risiko yang sering diabaikan. Keinginan untuk selalu mengikuti tren terbaru—baik dalam hal fashion, gadget, maupun gaya hidup—dapat mendorong perilaku konsumtif. Banyak orang akhirnya mengeluarkan uang di luar kemampuan hanya demi menjaga citra atau agar tidak merasa tertinggal. Dalam jangka panjang, hal ini dapat mengganggu stabilitas keuangan pribadi.
Selain itu, FOMO turut memengaruhi kualitas relasi sosial. Ironisnya, meskipun individu berusaha untuk selalu “terlibat”, hubungan yang terjalin justru cenderung dangkal. Interaksi lebih banyak terjadi di dunia maya dibandingkan di dunia nyata, sehingga kedekatan emosional yang sebenarnya berkurang. Bahkan, fokus berlebihan pada apa yang terjadi di luar diri dapat membuat seseorang kurang hadir dalam momen yang sedang dijalani.
Mengatasi FOMO bukan berarti harus sepenuhnya menjauh dari media sosial, melainkan membangun kesadaran dan kendali diri. Penting untuk memahami bahwa tidak semua hal perlu diikuti, dan tidak semua yang terlihat di media sosial mencerminkan kenyataan secara utuh. Mengembangkan rasa syukur, menetapkan prioritas pribadi, serta membatasi penggunaan media sosial dapat menjadi langkah awal untuk keluar dari jerat FOMO.
Pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa banyak tren yang diikuti, melainkan tentang bagaimana seseorang menjalani hidup yang selaras dengan nilai dan kebutuhannya sendiri. Dengan perspektif yang lebih sehat, individu dapat tetap terhubung tanpa kehilangan jati diri.
Referensi :
https://www.kompasiana.com/raadisyamahira5665/694f7daec925c43748787bb2/terjebak-takut-tertinggal-fenomena-fomo-pada-remaja-indonesia-di-era-digital?page=all
https://berita.fokus.co.id/2025/11/fenomena-fomo-pada-remaja-di-era.html
https://web.unikom.ac.id/fenomena-fear-of-missing-out-fomo-di-media-sosial-dan-cara-mengatasinya/
| Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Profesi di Era Digital |
https://radarmukomuko.disway.id/news/read/691493/waspada-5-kondisi-mengerikan-ini-jika-kamu-terus-terusan-ikut-tren-tanpa-pikir-panjang
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....