Mengenal Beuma dan Ngetau, Kearifan Lokal Dayak Desa dalam Bertani
- 02 Mar 2026 10:11 WIB
- Sintang
RRI.CO.ID, Sintang – Masyarakat suku Dayak Desa sejak lama memiliki pengetahuan dan kebiasaan dalam memanfaatkan hutan serta lingkungan tempat tinggalnya. Salah satu warisan budaya tersebut adalah pengetahuan dalam mengolah lahan untuk bercocok tanam atau bertani (beuma).
Dalam program Ragam Budaya Dayak Desa, Minggu, 1 Maret 2026, Budayawan Dayak Desa, Hendrikus Julung, menjelaskan bahwa dalam tradisi suku Dayak Desa terdapat dua cara bercocok tanam, yaitu memanfaatkan lahan kering (tadah hujan) yang dikenal dengan beuma mungguk dan memanfaatkan lahan basah yang disebut beuma payak.
Proses beuma dimulai dari tahapan mangul, nebas, nebang, nunu, nayak, nugal/namal, mabau, hingga ngetau.
Salah satu tahapan penting adalah kebiasaan ngetau padi (panen padi). Ngetau dimulai ketika padi mulai menguning yang diawali dengan ritual datai taun. Pada saat datai taun dilakukan ngetau puli mudak yang akan dijadikan pam, sekaligus sebagai permulaan ngetau padi untuk betabak.
Hendrikus Julung menjelaskan, setelah datai taun dan padi benar-benar menguning, ngetau pertama dimulai dengan ngegak padi pansuh. Prosesnya, setelah padi diketau, padi diirik lalu ditempatkan di atas kelayak, kemudian ditampik menggunakan capan untuk memisahkan padi berisi dengan ancak (ampa).
Selanjutnya, padi direbus hingga airnya menguap, didinginkan, lalu dijemur hingga siang hari. Setelah itu, padi ditutuk atau ditumbuk menggunakan alu dan lesung untuk memisahkan kulit dan isinya. Kemudian kembali ditampik untuk memisahkan sekam dari beras. Sekam tersebut harus disimpan selama tiga hari dan tidak boleh dibakar.
Pada hari berikutnya, beras pansuh yang telah disiapkan dimasak. Setelah itu dilanjutkan dengan ngumpan kejirak (burung pelindung padi). Seusai ngumpan kejirak, tuan rumah baru diperbolehkan memakan nasi pansuh dengan terlebih dahulu mencelupkan kayu pampik ke nasi dan menyentuhkannya ke mulut sebagai simbol adat. Selanjutnya, nasi dibagikan kepada keluarga dan tetangga sebagai bentuk berbagi rezeki dan ungkapan syukur atas karunia Tuhan.
Setelah rangkaian tersebut, barulah proses ngetau dilanjutkan secara menyeluruh. Dalam pelaksanaannya, sejumlah peralatan harus disiapkan, antara lain rumah penyimpanan padi seperti rumah durung dan pitak/rengkiang, empajang, takin, kelayak/tikar/layan, capan, penganyi, kulak, serta gatang atau muk.
Dikatakan Hendrikus Julung, empajang biasanya digunakan untuk mengangkut padi pulai dari uma ke langkau atau rumah. Takin berfungsi sebagai wadah padi saat ngetau dan saat ngancau. Kelayak/tikar/layan dipakai untuk menjemur dan mengirik padi. Capan digunakan untuk menampi padi dan beras guna memisahkan padi berisi dengan ancak, serta memisahkan beras dari sekam. Penganyi adalah alat yang digunakan untuk memotong padi saat ngetau. Sementara itu, kulak dan gatang/muk digunakan untuk menakar padi dan beras.
Dijelaskan Hendrikus Julung, ngetau atau ngetam merupakan proses panen padi ketika musim padi menguning. Proses ini dapat dilakukan sendiri, bersama keluarga, atau secara gotong royong yang dikenal dengan beduruk ngetau. Selain itu, ada pula tradisi ngajih orang atau maik orang untuk membantu memanen padi dengan sistem upah berupa padi atau uang.
Dalam proses ngetau, wajib dilakukan ngegak benih padi (puli atau bala ntanam) yang akan digunakan untuk musim tanam berikutnya. Ngegak benih harus dilakukan pada hari dan cuaca yang baik, serta saat pertanda alam—seperti suara burung biuk—dianggap baik. Setelah seluruh padi dan puli selesai diketau, dilakukan ketau pengabis sebagai penutup sekaligus penuduk benih sambil ngumai semengat padi pulai.
Setelah padi diketau, padi dilekai dan dikeringkan sebelum disimpan. Pada saat penyimpanan pertama, padi dilapisi dengan kelayak, kayu pencelap, dan pelekat agar semengat padi tetap betah dan melekat. Padi juga “diberi makan” secara simbolis dengan membuat pegelak yang digantung menggunakan rancak gantung.
Selanjutnya, pada saat ngancau (menjemur padi), padi dipadai di pumput lalu ditempatkan menggunakan bakul sebelum dimasukkan ke takin sebagai simbol jimat agar hasil beras padat dan berlimpah. Padi kemudian diirik menggunakan kelayak, dipisahkan antara tangkai dan bulirnya (diruman), lalu ditampik menggunakan capan untuk memisahkan padi berisi dan ancak. Setelah itu, padi kembali dijemur hingga benar-benar kering dan siap disimpan atau diolah lebih lanjut.
Hendrikus Julung mengatakan tradisi ngetau bukan sekadar kegiatan panen, melainkan rangkaian adat yang sarat makna, nilai gotong royong, serta ungkapan rasa syukur masyarakat Dayak Desa atas hasil panen yang diberikan Tuhan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....