Sistem Pangan Biru dan Jalan Baru Ketahanan Pangan Kepesisiran Sumatera

  • 27 Jun 2026 20:23 WIB
  •  Sibolga

RRI.CO.ID, Sibolga - Membahas topik ketahanan pangan Sumatera, perhatian kita terlalu lama mendekam pada makam pangan berbasis daratan. Beras, hortikultura, perkebunan dan berbagai komoditas pertanian lainnya masih menjadi primadona.

Paradigma ini memang memiliki alasan historis dan strategis, namun menghadirkan satu pertanyaan penting tentang bagaimana mungkin sebuah kepulauan besar dengan garis pantai yang begitu panjang, masih terkesan mengalpakan laut sebagai bagian utama dari sistem pangan?


1.Abstraksi

Inilah paradoks pembangunan pangan kita. Laut memiliki potensi besar sebagai sumber protein, penggerak ekonomi dan penopang kehidupan masyarakat pesisir, namun masih sering diperlakukan sebatas sektor perikanan atau semata komoditas perdagangan.

Padahal, ketahanan pangan tidak hanya tentang menghasilkan makanan, tetapi juga menyangkut akses, distribusi, gizi, keberlanjutan, dan ketahanan menghadapi perubahan ekonomi maupun lingkungan, sejurus amanat Undang Undang Nomor 18 Tahun 2012. Karena itu, cara pandang terhadap pangan di Sumatera dirasa perlu untuk diperluas cakrawalanya.

Berbagai kawasan pesisir di pulau yang kaya ini menunjukkan, seharusnya laut bukan sekadar ruang produksi hasil tangkapan, melainkan bagian penting dari sistem pangan yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan.


2. Ketahanan Pangan Menuju Sistem Pangan Biru

Dewasa ini, diskursus pangan global kian masif memperbincangkan penguatan konsep sistem pangan biru (blue food system), usaha menitikberatkan pangan yang berasal dari perairan sebagai bagian penting dari masa depan ketahanan pangan global. Pandangan bahwa laut merupakan bagian dari sistem pangan bukan lagi dilekatkan pada gagasan alternatif.

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) menebalkan penegasan bahwa pangan akuatik memiliki peran penting dalam ketahanan pangan dan gizi global karena ketersediaan sumber protein berkualitas, nutrisi penting, serta menjadi sumber penghidupan bagi jutaan masyarakat. Laporan FAO juga menunjukkan, produksi perikanan dan akuakultur dunia telah mencapai level tertinggi dalam sejarah, sebuah sinyal yang penting terkait peran besar pangan akuatik dalam menjawab tantangan pangan masa depan.

Kajian ilmiah dalam jurnal Global Food Security juga mendukung kesahihan ide revitalisasi sistem pangan biru ini, dalam upaya mengurangi tekanan terhadap sumber daya daratan. Potensi besar kemaritiman kita masih sering belum menjadi bagian utama dalam perencanaan kebijakan pangan.

Maka saat ini penting untuk memahami bahwa laut lebih dari soalan sektor produksi ikan. Laut harus kembali pada khittah-nya sebagai ekosistem pangan yang menghubungkan berbagai mata rantai mulai dari nelayan, pengolahan, teknologi penyimpanan, distribusi hingga konsumen serta siklus lanjutannya.


3. Nilai Tambah dan Peran UMKM

Memang perlu kejujuran untuk tidak menafikan tantangan terbesar sektor kelautan kita yang selama ini tersendat pada problematika rantai nilai yang belum optimal. Jika gerak pembangunan sistem pangan biru (blue food system) menjadi gagasan untuk dikonkretkan, maka akan muncul konsekuensinya yang turut serta melebihi soalan peningkatan hasil laut saja, tentang bagaimana memastikan nilai tambah dari sumber daya laut tersebut tetap tumbuh di daerah penghasil.

Selama ini, banyak wilayah pesisir masih berada dalam posisi sebagai pemasok bahan mentah. Hasil tangkapan laut sering kali berhenti pada tahap awal.

Hal ini akhirnya mengakibatkan masyarakat yang hidup paling dekat dengan sumber daya laut justru belum selalu menjadi pihak yang mendapatkan manfaat ekonomi terbesar dari potensi tersebut. Hasil laut sejatinya dapat memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih besar ketika berhasil meruntut prosesnya dengan baik dan ideal mulai dari pengolahan, penginovasian, branding hingga pemenuhan standarisasi pasar agar mampu menjangkau konsumen yang lebih luas.

Inovasi produk tentu menjadi kata kunci yang menentukan dan di sinilah UMKM lokal mesti memulai mengambil peran strategisnya. Data Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menunjukkan bahwa sektor UMKM tetap menjadi salah satu fondasi utama perekonomian Indonesia.

Besarnya kontribusi tersebut menegaskan UMKM tidak hanya berperan sebagai sektor pendukung, tetapi menjadi salah satu penggerak utama aktivitas ekonomi masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan produktivitas, dan pemerataan nilai ekonomi. Dalam konteks kepesisiran, UMKM dapat menjadi penghubung antara sumber daya laut dan kebutuhan pasar.


4. Menggerakkan Hilirisasi Pangan Biru Lewat Inovasi Lokal

Sayangnya, hilirisasi selama ini sering dipersepsikan sebagai agenda besar yang hanya dapat dilakukan melalui pembangunan industri berskala besar pula, investasi tinggi, dan teknologi kompleks. Padahal, transformasi nilai ekonomi juga dapat dimulai dari tingkat masyarakat, saat para pelaku usaha lokal mampu melihat sumber daya yang selama ini hanya dijual sebagai komoditas mentah menjadi produk yang memiliki nilai tambah, daya saing, dan peluang pasar yang lebih luas.

Pun, dalam konteks pembangunan sistem pangan biru (Blue Food System), Hilirisasinya akan membutuhkan ekosistem yang menghubungkan nelayan, pelaku UMKM, teknologi, pembiayaan, hingga pasar. Di dalamnya, tentu akan ada usaha penguatan rantai dingin (cold chain) yang menjadi penting untuk menjaga kualitas hasil laut sejak dari sumbernya, sementara peningkatan kapasitas pengolahan, sertifikasi, standar produksi, desain kemasan, dan pemasaran digital menjadi instrumen agar produk lokal mampu naik kelas.

Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara menjadi contoh menarik. Wilayah yang berada di pesisir Samudera Hindia ini memiliki kekayaan hasil laut yang besar, tetapi sebagian nilai ekonominya masih banyak berhenti pada perdagangan bahan mentah.

Dalam sejarah pangan masyarakat pesisir khususnya Sibolga-Tapteng, ikan asin menjadi salah satu bukti bagaimana komunitas lokal telah lama menemukan cara untuk menjaga nilai hasil laut. Namun, tantangan hari ini menuntut lebih dari sekadar mempertahankan hasil laut, butuh langkah lanjutan untuk mengubahnya menjadi produk bernilai tambah yang mampu memasuki rantai ekonomi yang lebih luas.

Di sinilah, inovasi pangan modern dan geliat UMKM kepesisiran menjadi kelanjutan dari perjalanan panjang masyarakat dalam mengelola sumber daya lautnya.

5. Fenomena Oleh-Oleh Khas Sibolga sebagai Bukti Hilirisasi dari Masyarakat

Di tengah tantangan tersebut, muncul sebuah fenomena menarik dari tingkat akar rumput. Keripik Sambal Special Sibolga Cap Bawang yang dikembangkan Serdang Margono, turunan dari usaha orang tuanya yang telah eksis sejak 1987, menunjukkan bahwa hilirisasi pangan biru bukan sekadar konsep kebijakan, tetapi dapat tumbuh dari kreativitas masyarakat.

Bahkan produk ini tidak hanya menjual makanan ringan, tetapi menerjemahkan identitas maritim Sibolga ke dalam bentuk pangan modern. Dengan menghadirkan cita rasa laut melalui bahan seperti udang, ebi, dan ikan tenggiri, produk ini mengubah hasil laut menjadi pengalaman konsumsi yang memiliki karakter, nilai ekonomi, dan daya saing.


Melalui konsistensi kualitas, penguatan cita rasa, pengemasan, dan pengembangan produk, Keripik Sambal Special Sibolga Cap Bawang mampu berkembang dari produk lokal hingga menjangkau pasar yang lebih luas termasuk ekspor. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa masyarakat pesisir sebenarnya memiliki kemampuan untuk melakukan transformasi ekonomi ketika kreativitas mendapatkan ruang.

Menariknya, praktik semacam ini telah berjalan bahkan sebelum istilah Blue Food System menjadi perhatian besar dalam agenda pembangunan pangan. Artinya, masyarakat lokal sesungguhnya sudah lebih dahulu menunjukkan arah yang ingin dicapai oleh konsep tersebut.

Pertanyaannya kemudian, jika satu usaha lokal mampu membuktikan hasil laut dapat diubah menjadi produk bernilai tinggi, mengapa model seperti ini tidak diperluas secara lebih sistematis? Mengapa tidak ada gerakan besar yang menghubungkan lebih banyak UMKM pesisir dengan riset, pembiayaan, pendampingan, teknologi pengolahan, dan akses pasar?

Di sinilah peran pemerintah, Bank Indonesia, perguruan tinggi, dan berbagai pemangku kepentingan menjadi penting. Bukan sekadar menghadirkan program bantuan, tetapi membangun ekosistem yang memungkinkan lebih banyak pelaku lokal naik kelas.

Tantangan berikutnya adalah bagaimana satu keberhasilan tersebut tidak berhenti sebagai cerita sukses, tetapi menjadi model yang melahirkan lebih banyak inovasi pesisir lainnya.

6. Penutup

Konsep Sistem Pangan Biru menunjukkan bahwa hasil laut bukan sekadar komoditas, tetapi sumber nilai yang dapat diolah melalui kreativitas, teknologi, dan inovasi lokal. Di kawasan Sibolga–Tapteng, potensi ini terlihat dari bagaimana UMKM mampu mengubah kekayaan pesisir menjadi produk bernilai tambah, memperkuat ekonomi masyarakat, sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas.


Keberhasilan Keripik Sambal Special Sibolga Cap Bawang menjadi salah satu contoh yang representatif, bahwa inovasi lokal dapat membawa identitas daerah melampaui batas wilayah. Dengan meramu cita rasa laut melalui bahan seperti udang, ebi, dan ikan tenggiri, produk ini membuktikan bahwa hasil laut dapat bertransformasi menjadi pangan berkualitas yang memiliki daya saing hingga pasar ekspor.

Jejak ini menjadi pesan penting bagi UMKM lainnya di seluruh pesisir Sumatera, bahwa masa depan pangan tidak hanya ditentukan oleh besarnya sumber daya, tetapi oleh kemampuan manusia menciptakan nilai dari sumber daya tersebut dan adanya keberanian untuk mencoba. Apalagi, turut serta didukung kebijakan dari pemangku kepentingan yang mengakomodir gagasan menjadi terobosan, maka keberlangsungan akan menjadi keniscayaan.

Laut, bukan hal aman belakang pembangunan. Laut adalah ruang depan masa depan.

Ketika UMKM, inovasi lokal, dan sistem pangan biru bergerak bersama, ketahanan pangan bukan hanya soal memastikan makanan tersedia, tetapi tentang membangun kemandirian ekonomi dan masa depan masyarakat pesisir. Bisakah kita mewujudkannya? Semoga.

Penulis: Irfan Arhamsyah Sihotang (Ketua Yayasan Forum Komunitas Kreatif Sibolga-Tapteng 2020-2025)

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....