Perempuan Rentan Alami Gangguan Kesehatan Mental

  • 09 Mar 2026 11:17 WIB
  •  Sibolga

RRI.CO.ID, Sibolga — Perempuan dinilai memiliki risiko gangguan kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan hingga dua kali lebih besar dibandingkan pria. Kondisi ini dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari tekanan sosial, peran ganda dalam keluarga dan pekerjaan, hingga standar kecantikan yang berkembang di masyarakat.

Selain faktor sosial, kerentanan tersebut juga diperkuat oleh faktor biologis dan stigma yang masih melekat di lingkungan sekitar. Beban emosional yang tinggi dalam kehidupan sehari-hari membuat perempuan lebih mudah mengalami tekanan psikologis.

Praktisi Perempuan dan Anak Kota Sibolga, Dewi Harahap, mengatakan tekanan sosial yang dialami perempuan sering kali tidak disadari, tetapi berdampak besar terhadap kondisi mental. Menurutnya, banyak perempuan harus menjalankan peran ganda sebagai ibu rumah tangga sekaligus pekerja profesional.

Hal itu disampaikan Dewi dalam program Pengarusutamaan Gender Pro 1 RRI Sibolga, Senin,, 9 Maret 2023. “Tuntutan untuk menjadi istri dan ibu yang sempurna, sekaligus berhasil dalam pekerjaan, sering menimbulkan kelelahan fisik dan mental atau burnout,” ujarnya.

Ia menjelaskan, selain peran ganda, standar kecantikan dan tuntutan sosial juga menjadi faktor yang memengaruhi kesehatan mental perempuan. Banyak perempuan merasa harus memenuhi standar fisik tertentu yang dibentuk oleh budaya dan media.

Tekanan tersebut dapat memicu rendahnya rasa percaya diri bahkan memunculkan gangguan psikologis. Dalam beberapa kasus, kondisi ini dapat berkembang menjadi gangguan makan hingga krisis identitas diri.

Dewi juga menyoroti masih adanya stigma dan diskriminasi terhadap perempuan dalam kehidupan sosial. Misalnya stigma terhadap perempuan yang bekerja hingga larut malam, cara berpakaian, hingga penilaian terhadap status dan pilihan hidup mereka.

Menurutnya, ekspektasi budaya yang menuntut perempuan untuk selalu mengalah dan lebih emosional turut memperbesar tekanan mental yang dirasakan. Perempuan juga kerap diharapkan menempatkan kebutuhan orang lain di atas kepentingan dirinya sendiri.

Akibat berbagai tekanan tersebut, perempuan lebih rentan mengalami depresi, kecemasan, hingga stres kronis. Dalam beberapa kasus, pengalaman diskriminasi atau tekanan sosial berkepanjangan juga dapat memicu trauma psikologis jangka panjang seperti gangguan stres pascatrauma.

Sementara itu, Saripa Dewi yang merupakan ibu rumah tangga mengaku tekanan sosial sering kali dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengatakan perempuan kerap memikul banyak tanggung jawab sekaligus, mulai dari mengurus rumah tangga hingga memenuhi ekspektasi lingkungan. “Kadang perempuan merasa harus kuat terus, padahal sebenarnya juga butuh didengar dan dipahami,” katanya.

Para praktisi menilai penting bagi perempuan untuk mulai memperhatikan kesehatan mentalnya. Hal ini dapat dilakukan dengan membangun sistem dukungan dari keluarga dan teman, meluangkan waktu untuk melakukan self-care, serta tidak ragu mencari bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater jika diperlukan. Selain itu, perempuan juga perlu belajar menetapkan batasan dan berani mengatakan tidak agar tidak terbebani oleh tuntutan sosial yang berlebihan.

Rekomendasi Berita