Krisis Etika Generasi Muda di Era Digital
- 13 Feb 2026 06:51 WIB
- Sibolga
RRI.CO.ID, Sibolga - Krisis etika generasi muda kini menjadi perhatian serius di era digital, menyoroti meningkatnya perilaku menyimpang di media sosial. Informasi ini disiarkan dalam program Opini Publik edisi Kamis, 12 Februari 2026.
Masalah ini terlihat di banyak daerah, terutama dalam lingkungan sekolah dan rumah. Bentuknya tampak dari perundungan, fitnah, ujaran kebencian, hingga penyebaran hoaks yang berawal dari media sosial.
Generasi muda menjadi kelompok paling terdampak karena mereka merupakan pengguna internet dan media sosial terbanyak saat ini. Dalam banyak kasus, perilaku negatif muncul ketika remaja mengejar pengakuan, popularitas, dan tekanan pergaulan.
Menanggapi kondisi tersebut, Opung Valentino menilai akar persoalan adalah lemahnya pendampingan keluarga di rumah. “Orang tua harus hadir, bukan hanya memberi gawai,” ujar Opung Valentino dalam program tersebut.
Ia menambahkan bahwa anak membutuhkan teladan, komunikasi, serta aturan yang jelas setiap hari. “Etika dibentuk dari rumah, bukan hanya dari sekolah,” Ujarnya, menegaskan peran keluarga sebagai pondasi utama.
Selain keluarga, sekolah juga dinilai memiliki peran besar dalam membentuk karakter generasi muda. Sejumlah pakar pendidik menegaskan, pendidikan etika tidak cukup diberikan lewat teori, tetapi harus dibiasakan melalui disiplin dan keteladanan.
Upaya mengatasi krisis etika ini dinilai harus dilakukan melalui kerja sama orang tua dan sekolah secara konsisten. Pengawasan penggunaan gawai, pembatasan aktivitas media sosial, serta penguatan literasi digital perlu diterapkan sejak dini.