Pelajar Tapteng Ungkap Trauma Banjir Bandang dan Longsor

  • 21 Jan 2026 15:12 WIB
  •  Sibolga

RRI.CO.ID, Sibolga - Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, pada Selasa (25/11/2025) lalu menyisakan duka mendalam bagi masyarakat, khususnya di Kecamatan Tukka. Kisah para korban dan relawan tersebut disampaikan melalui podcast RRI Sibolga.

Seorang korban, Salsa, mengungkapkan air bah naik dengan sangat cepat pada pagi hari yang bertepatan dengan peringatan Hari Guru. “Sekitar jam tujuh pagi air sudah setinggi lutut, motor saya mogok, lalu air naik sampai dada,” ujar Salsa.

Korban lainnya, Petrus, mengatakan longsor menutup akses jalan di kawasan Hutana Bolon sehingga warga terisolasi. “Pohon-pohon besar tumbang dan jalan tertutup longsor sekitar tiga kilometer,” kata Petrus.

Dalam kondisi darurat, Petrus bersama keluarganya terpaksa melakukan evakuasi mandiri ke hutan. “Saya gendong adik-adik dan menuntun orang tua ke puncak gunung karena sudah tidak ada jalan,” ujarnya.

Petrus menuturkan keluarganya bertahan di hutan selama dua hari dua malam tanpa perlindungan memadai. “Kami berteduh di bawah pohon dan masak nasi pakai bambu dengan sisa tiga takar beras,” katanya.

Relawan Widat menyoroti dugaan kuat bahwa banjir bandang dan longsor diperparah oleh aktivitas pembalakan liar di wilayah hulu. “Banyak kayu gelondongan hanyut dan menumpuk di jembatan saat banjir,” ujar Widat.

Petrus membenarkan adanya aktivitas penebangan liar di kawasan atas kampungnya. “Kami sering melihat orang menebang kayu pakai mesin, tapi teguran warga tidak dihiraukan,” katanya.

Di tengah keterbatasan, solidaritas warga tetap terjaga di lokasi pengungsian. “Yang penting kami semua selamat, dan bencana ini jadi peringatan agar manusia tidak merusak alam,” ujar Petrus menutup kisahnya.

Rekomendasi Berita