Bupati Tapsel Harap Ormas Islam Ambil Peran Percepat Pemulihan Pascabencana dan B

  • 02 Okt 2026 21:59 WIB
  •  Sibolga

RRI.CO.ID, Tapsel – Bupati Tapanuli Selatan H. Gus Irawan Pasaribu berharap seluruh organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam di Kabupaten Tapanuli Selatan mengambil peran lebih aktif dalam membantu masyarakat bangkit setelah diterpa bencana, terutama dalam pemulihan ekonomi, penguatan sosial-keagamaan, serta pemberantasan berbagai persoalan sosial.

Harapan tersebut disampaikan Bupati saat menghadiri Silaturahmi dan Koordinasi Membangun Sinergi Antar ormas Islam dengan tema “Tapsel Pulih Lebih Cepat dan Bangkit Lebih Kuat”, yang digelar di Kantor MUI Tapanuli Selatan, Kompleks Perkantoran Bupati Tapanuli Selatan, Sipirok, Jumat, 2 Oktober 2026.

Pertemuan tersebut dihadiri Kepala Bagian Kesra Setdakab Tapsel Hotma Rido Ranto Siregar, Ketua BWI, Ketua NU, Ketua Muhammadiyah, Ketua Al Jam’iyatul Washliyah, Ketua Baznas, Ketua BKMT, Ketua PD Aisyiyah, Ketua DMI, Ketua FKUB, Ketua BKPRMI, Ketua Muslimat NU, Ketua IPQOH, Ketua IPHI, Ketua FKDT, Ketua BSPPTS, serta para pengurus ormas Islam lainnya.

Bupati mengatakan, sinergi antara pemerintah daerah dan ormas Islam sangat dibutuhkan karena dampak bencana yang melanda Tapsel pada 25 November 2025 tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga memukul kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.

“Persoalan berikutnya yang masih harus kita temukan solusinya adalah bagaimana menyambung hidup para korban, sehingga mereka kembali memiliki mata pencaharian. Di sinilah saya kira kami membutuhkan bantuan dan kerja sama dari seluruh komponen masyarakat, termasuk ormas Islam,” ujar Gus Irawan.

Menurutnya, bencana telah menyebabkan lebih dari 3.000 Hektare lahan pertanian terdampak dengan tingkat kerusakan yang beragam. Sebagian masyarakat bahkan harus direlokasi karena wilayah tempat tinggalnya dinilai tidak lagi aman.

Pemerintah bersama pemerintah pusat dan berbagai pihak saat ini terus mempercepat pembangunan hunian tetap maupun pemulihan masyarakat terdampak. Di sejumlah lokasi, proses pembangunan huntap telah berjalan, termasuk di Hapesong, Simatohir, Tandihat, serta lokasi lainnya.

Namun, kata Bupati, pembangunan rumah saja belum cukup. Masyarakat korban bencana harus kembali memiliki sumber penghasilan agar mampu menjalani kehidupan secara mandiri.

“Belum tuntas, tetapi semuanya sedang berproses menuju tuntas. Persoalan berikutnya adalah bagaimana masyarakat korban bencana ini kembali memiliki mata pencaharian,” katanya.

Bupati menilai, ormas Islam memiliki posisi strategis karena mempunyai jaringan hingga ke tingkat desa dan komunitas masyarakat. Karena itu, peran para ulama, dai, mubalig, pengurus masjid, kelompok pengajian, serta organisasi perempuan Islam dinilai sangat penting dalam mengawal proses pemulihan.

Ia berharap kegiatan pengajian, dakwah dan pertemuan organisasi tidak hanya menjadi ruang penguatan keagamaan, tetapi juga dapat menjadi sarana menyampaikan informasi mengenai program pemberdayaan pemerintah.

“Bagaimana ini sampai kepada masyarakat, bagaimana mengubah mindset masyarakat, lalu kemudian program-program ini bisa berjalan lebih masif. Saya kira organisasi Islam bisa mengambil peran di situ,” tegasnya.

Bupati juga mengajak para dai dan tokoh agama untuk memberikan perhatian khusus kepada masyarakat yang terdampak bencana melalui pengajian dan kegiatan keagamaan. Selain memperkuat mental dan spiritual, kegiatan tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat melewati trauma serta membangun kembali optimisme pascabencana.

Dalam kesempatan itu, Gus Irawan juga mengajak seluruh ormas Islam bersama pemerintah daerah menghadapi tiga persoalan besar yang dinilainya menjadi tantangan pembangunan Tapsel, yakni perang melawan narkoba dan judi online, melawan praktik rentenir, serta melawan kemiskinan.

Menurutnya, pemberantasan narkoba tidak cukup hanya mengandalkan penegakan hukum. Keluarga dan lingkungan masyarakat juga harus menjadi benteng pertama.

“Kalau setiap keluarga di Tapsel terbebas dari narkoba, maka Tapsel akan terbebas dari narkoba. Di sinilah sentuhan keagamaan dan peran organisasi masyarakat sangat penting,” ujarnya.

Selain narkoba, Bupati menyoroti semakin banyaknya masyarakat yang terjerat pembiayaan berbunga tinggi. Ia menyebut pemerintah daerah bersama Bank Sumut sedang mendorong alternatif pembiayaan yang lebih ringan agar masyarakat dapat keluar dari jeratan pinjaman berbunga tinggi.

Melalui program pembiayaan Bank Sumut, pemerintah mendorong masyarakat, khususnya pelaku usaha dan kelompok perempuan, beralih ke pembiayaan produktif dengan bunga yang jauh lebih rendah.

Bupati berharap organisasi seperti BKMT, Aisyiyah, Muslimat NU dan organisasi perempuan lainnya ikut membantu menyosialisasikan program tersebut karena memiliki kedekatan langsung dengan keluarga dan masyarakat.

“Ibu-ibu berada di lingkungan masing-masing. Kalau ada keluarga atau tetangga yang terjerat pinjaman berbunga tinggi, tolong informasi ini disampaikan. Kita ingin mengangkat mereka dari kondisi itu dan memindahkannya ke pembiayaan yang lebih ringan,” katanya.

Bupati menjelaskan, dampak bencana juga terlihat pada indikator ekonomi daerah. Ribuan hektare lahan pertanian terdampak sehingga produksi masyarakat mengalami penurunan.

Pertumbuhan ekonomi Tapsel yang sebelumnya berada di atas 5 persen turun menjadi 2,49 persen pada triwulan IV 2025. Berbagai intervensi pemerintah kemudian mendorong pertumbuhan kembali meningkat menjadi 3,49 persen pada triwulan I 2026 dan 4,57 persen pada triwulan II 2026.

Namun, angka tersebut dinilai masih harus terus didorong agar kembali pada kondisi sebelum bencana.

Untuk itu, Pemkab Tapsel mendorong berbagai program pemberdayaan ekonomi, antara lain pengembangan jagung, kopi, peternakan dan perikanan, serta akses pembiayaan produktif melalui Bank Sumut dan dukungan Baznas.

Program tersebut diharapkan tidak sekadar memberikan bantuan, tetapi menciptakan sumber penghasilan yang berkelanjutan bagi masyarakat.

“Bantuan pemerintah tidak boleh berhenti pada bantuan konsumtif. Kita harus mendorong masyarakat agar memiliki usaha, memiliki penghasilan dan mampu berdiri sendiri,” ungkapnya.

Bupati juga menyampaikan apresiasi kepada Baznas Tapsel yang selama ini membantu mengisi ruang yang belum dapat dijangkau pembiayaan perbankan, khususnya bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan akses pembiayaan.

Ia berharap Baznas dan lembaga sosial keagamaan lainnya terus melakukan terobosan dengan tetap memastikan bantuan tepat sasaran dan dikelola secara amanah.

Sementara itu, Ketua MUI Tapanuli Selatan Ali Sati Rangkuti mengatakan, pertemuan tersebut merupakan momentum untuk memperkuat koordinasi dan membangun sinergi antara MUI dengan seluruh ormas Islam di Tapanuli Selatan.

Menurutnya, sedikitnya 15 ormas Islam telah diundang dalam kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya menyatukan langkah dalam membantu pemerintah dan masyarakat.

“Kita ingin ke depan ada program kerja yang bisa kita sinergikan dan kolaborasikan. Kita bekerja sama dan sama-sama bekerja untuk Tapanuli Selatan agar lebih cepat pulih dan bangkit lebih kuat,” ujar Ali Sati.

Ia berharap arahan Bupati dapat menjadi pedoman bagi seluruh ormas Islam dalam menentukan langkah konkret di tengah masyarakat.

Pertemuan tersebut akhirnya tidak hanya menjadi forum silaturahmi, tetapi juga menjadi ruang konsolidasi untuk memperkuat peran ormas Islam dalam membantu pemerintah menghadapi dampak pascabencana, memperkuat ketahanan sosial, memberdayakan ekonomi masyarakat, serta menjaga Tapanuli Selatan dari ancaman narkoba, rentenir dan kemiskinan.

Dengan kekuatan jaringan sosial-keagamaan yang dimiliki, seluruh ormas Islam diharapkan dapat menjadi bagian penting dari gerakan bersama menuju Tapsel Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....