Dari Desa untuk Tapsel Bangkit, Gus Irawan Kawal Kopi 600 Hektare hingga Restocking

  • 07 Sep 2026 11:19 WIB
  •  Sibolga

RRI.CO.ID, Tapsel – Tidak ingin hanya menerima laporan dari balik meja, Bupati Tapanuli Selatan H. Gus Irawan Pasaribu kembali turun langsung menyambangi masyarakat di desa-desa. Memasuki hari kedua agenda kunjungan desa, Minggu, 6 September 2026, Bupati bahkan menggunakan sepeda motor untuk menyusuri sejumlah wilayah di Kecamatan Sipirok, Arse dan Saipar Dolok Hole (SDH).

Turut mendampingi Bupati dalam kunjungan tersebut Kapolres Tapanuli Selatan AKBP Anton Santoso, Sekda Tapsel H. Sofyan Adil Siregar, serta pimpinan OPD terkait.

Kunjungan tersebut bukan sekadar agenda seremonial. Bupati bersama rombongan melihat langsung kondisi masyarakat, meninjau potensi pertanian dan infrastruktur, menyerahkan bantuan bibit kopi dan ikan, sekaligus menyerap aspirasi warga dari dekat.

Bagi Gus Irawan, turun ke desa merupakan bagian dari upaya memastikan program pemerintah benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.

“Kita ingin melihat langsung, bukan hanya berdasarkan laporan. Apalagi kemampuan APBD kita terbatas, sehingga kita harus menentukan skala prioritas,” ujar Bupati dalam salah satu kesempatan.

Salah satu fokus utama dalam kunjungan tersebut adalah pengembangan komoditas kopi Arabika. Di sejumlah desa Kecamatan Arse, Bupati menyerahkan bantuan bibit kopi kepada kelompok tani penerima program hilirisasi kopi.

Di Desa Pinagar, Kelompok Tani Swakarsa yang beranggotakan 22 orang mendapat bantuan bibit kopi Arabika untuk areal seluas 15 hektare.

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) menyampaikan bahwa bantuan bibit tersebut telah diterima kelompok dan dalam waktu dekat akan dilakukan penanaman.

Di Kecamatan Arse sendiri, program tersebut mencakup sembilan kelompok tani dengan total luasan sekitar 152 hektare.

Sementara di Desa Aek Haminjon, Kelompok Tani Sentosa Jaya mendapat bantuan untuk pengembangan kopi Arabika seluas 15 hektare dengan 14 orang penerima. Selain bibit, kelompok juga memperoleh dukungan biaya pembuatan lubang tanam.

Bantuan serupa juga diberikan kepada masyarakat Desa Nanggarjati dengan luasan 20 hektare.

Bupati menegaskan, bantuan tersebut bukan sekadar pembagian bibit. Pemerintah ingin memastikan seluruh proses berjalan hingga tanaman tumbuh dan menghasilkan.

“Yang paling penting program ini berjalan baik. Bibit yang diberikan harus ditanam dan dirawat. PPL juga harus ikut mengawal dan memastikan perkembangannya,” tegas Gus Irawan.

Ia menyebut Tapanuli Selatan bersyukur karena berhasil meyakinkan pemerintah pusat bahwa daerah ini memiliki potensi besar untuk pengembangan komoditas perkebunan, khususnya kopi.

Dalam program hilirisasi tersebut, Tapsel mendapat alokasi pengembangan kopi sekitar 600 hektare pada tahun ini, dengan Kecamatan Sipirok dan Arse sebagai salah satu kawasan yang memiliki potensi besar.

Bupati bahkan memproyeksikan kawasan Sipirok, Arse dan sekitarnya menjadi sentra kopi dan jagung.

Menurutnya, pengembangan kopi harus diarahkan bukan hanya pada peningkatan produksi, tetapi juga peningkatan nilai tambah dan pemasaran.

“Kita ingin nantinya kopi Sipirok keluar dengan nama dan identitasnya sendiri, bahkan bisa langsung diekspor. Kalau produksi meningkat dan pemasarannya semakin luas, nilai tambah yang diterima petani juga akan semakin besar,” katanya.

Ia menyebut peluang pasar kopi Tapsel terbuka luas. Bahkan, komunikasi dengan calon pembeli dari luar negeri telah mulai dijajaki.

Namun, menurutnya, kunci utama untuk merebut pasar tersebut adalah produksi yang cukup, kualitas yang terjaga dan kontinuitas pasokan.

Gus Irawan juga mendorong pola tanam terintegrasi antara kopi dan jagung.

Pasalnya, tanaman kopi membutuhkan waktu sekitar dua tahun sebelum mulai menghasilkan. Kondisi tersebut, kata dia, tidak boleh membuat petani kehilangan pendapatan selama masa menunggu.

Karena itu, pemerintah akan mendorong pola tumpang sari atau pola tanam yang memungkinkan lahan kopi dimanfaatkan untuk tanaman jagung.

“Kalau kopi baru berbuah sekitar dua tahun, maka selama menunggu bisa ditanam jagung. Jagung bisa dipanen sekitar empat bulan. Jadi ada hasil jangka pendek sambil menunggu kopi menghasilkan,” jelasnya.

Menurut Bupati, strategi tersebut sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi petani.

Ia berharap, ketika kopi mulai berproduksi, petani sudah memiliki sumber pendapatan tambahan dari tanaman sela.

Gus Irawan berulang kali menekankan bahwa tujuan akhir seluruh program tersebut bukan sekadar mengejar angka produksi.

Lebih jauh, program pertanian harus mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarga petani.

Ia bahkan menyampaikan harapan agar keberhasilan usaha kopi nantinya mampu membawa perubahan besar bagi kehidupan masyarakat, termasuk kemampuan orang tua membiayai pendidikan anak-anak hingga perguruan tinggi.

Yang paling penting bagaimana kesejahteraan meningkat dan anak-anak kita bisa sekolah tinggi sehingga masa depan mereka lebih baik,” ujarnya.

Bupati juga meminta kelompok tani menggunakan bantuan sesuai peruntukan. Dukungan biaya pembuatan lubang tanam, misalnya, harus benar-benar digunakan untuk memastikan program budidaya berjalan.

“Ini uang untuk memastikan program berjalan baik. Tolong dirawat betul-betul. Saya minta ada laporan perkembangan, karena saya ingin melihat program ini benar-benar berhasil,” katanya.

Dalam pertemuan dengan masyarakat, Bupati juga menyoroti persoalan pembiayaan yang selama ini menjadi beban sebagian pelaku usaha dan masyarakat.

Ia mendorong masyarakat agar tidak terus terjebak pada pinjaman dengan bunga tinggi.

Menurutnya, pemerintah daerah bersama Bank Sumut memiliki program pembiayaan yang dapat menjadi alternatif dengan beban bunga lebih ringan.

Bupati menyebut masyarakat yang selama ini berutang melalui lembaga pembiayaan dengan bunga tinggi perlu diberikan edukasi dan alternatif pembiayaan yang lebih terjangkau.

“Kalau ada pembiayaan dengan bunga yang jauh lebih ringan, tentu beban masyarakat akan lebih kecil,” ujarnya.

Ia meminta jajaran terkait aktif melakukan sosialisasi agar masyarakat memahami pilihan pembiayaan yang tersedia.

Selain kopi, perhatian Bupati juga menyentuh sektor perikanan.

Di Desa Dalihan Natolu, Kecamatan Arse, pemkab Tapsel menyerahkan dan melakukan restocking sebanyak 2.500 ekor benih ikan, terdiri dari ikan jurung, tawes dan mas.

Langkah tersebut dilakukan setelah sebelumnya terjadi bencana banjir dan longsor yang menyebabkan material tanah dan pasir masuk ke aliran sungai hingga mengakibatkan ikan di sungai banyak yang mati.

Bupati mengatakan, penebaran benih ikan tersebut diharapkan menghidupkan kembali fungsi sungai sebagai kawasan lubuk larangan sekaligus menjadi sumber ekonomi masyarakat.

“Ini mudah-mudahan menghidupkan kembali lubuk larangan sekaligus menyemangati masyarakat untuk menjaga sungai dan lingkungan,” katanya.

Bupati juga meminta masyarakat menjaga kualitas air dengan tidak membuang sampah sembarangan ke sungai.

Di setiap titik kunjungan, Bupati turut mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim kemarau.

Ia meminta masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar karena api berpotensi sulit dikendalikan dan dapat merembet ke kawasan hutan maupun permukiman.

Menurutnya, pencegahan jauh lebih baik daripada menangani dampak setelah kebakaran terjadi.

“Jangan membuka lahan dengan membakar. Kalau ada alat pertanian, gunakan alat tersebut. Jangan sampai api kecil kemudian tidak terkendali,” tegasnya.

Bupati juga meminta masyarakat segera melaporkan apabila menemukan titik api sehingga dapat ditangani sedini mungkin.

Kunjungan hari kedua tersebut sekaligus mempertegas komitmen Bupati untuk menjadikan kunjungan lapangan sebagai bagian dari pola kerja pemerintah daerah.

Gus Irawan mengatakan, bersama Kapolres Tapanuli Selatan, agenda turun ke desa akan dilakukan secara berkala untuk melihat langsung kondisi masyarakat dan perkembangan program pemerintah.

“Kita akan turun lagi. Saya ingin melihat yang sudah kita bagikan itu benar-benar ditanam, dirawat dan berkembang,” katanya.

Menurut Bupati, pola kerja tersebut penting karena pemerintah tidak cukup hanya menerima laporan administratif. Pemerintah harus mengetahui kondisi sebenarnya di lapangan, termasuk persoalan yang dihadapi masyarakat.

Dengan cara itu, kebijakan yang diambil di tingkat kabupaten diharapkan lebih tepat sasaran.

Bupati optimistis apabila program pertanian, perkebunan, perikanan dan pemberdayaan masyarakat dapat berjalan konsisten, maka sektor-sektor tersebut akan menjadi kekuatan baru untuk mendorong pemulihan dan pertumbuhan ekonomi Tapanuli Selatan.

“Kalau program ini berhasil, kepercayaan pemerintah pusat kepada Tapanuli Selatan juga akan semakin kuat. Ketika kita dipercaya, peluang untuk mendapatkan program pengembangan berikutnya akan semakin besar,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....