Diseminasi Studi Bentang Alam Batang Toru, Pemkab Tapsel Dorong Pemulihan Pascabe
- 12 Agt 2026 11:18 WIB
- Sibolga
RRI.CO.ID, Tapsel – Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) mendorong agar hasil penelitian dan kajian ilmiah mengenai Bentang Alam Batang Toru dapat segera ditindaklanjuti menjadi rekomendasi dan kebijakan nyata untuk memperkuat pemulihan pascabencana, perlindungan ekosistem, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Bupati Tapanuli Selatan H. Gus Irawan Pasaribu dalam kegiatan Diseminasi Hasil Studi Bentang Alam Batang Toru dan Pengembangan Pascabanjir Besar 2025, yang digelar Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara bersama Institute for Sustainable Earth and Resources (I-SER) FMIPA Universitas Indonesia (UI), di Hotel Santika Dyandra Premier Medan, Selasa, 11 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut dihadiri Sekda Tapanuli Selatan H. Sofyan Adil Siregar, Kepala Bappeda Tapsel Chairul Rizal Lubis, Kepala BPBD Tapsel Zulkarnain Siregar, Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Mahyuddin Ritonga, Kepala BBKSDA Sumatera Utara Novita Kusumawardani, Prof. Jatna Supriatna dari I-SER UI, para peneliti dari UI, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Nasional (UNAS), serta unsur pemerintah, NGO, pemerhati lingkungan dan konservasi.
Bupati Gus Irawan mengatakan, bencana hidrometeorologi yang terjadi pada 25 November 2025 memberikan dampak yang sangat besar bagi Tapanuli Selatan, khususnya kawasan yang berada di sepanjang daerah aliran Sungai Batang Toru, Sungai Garoga dan sejumlah sungai lainnya.
Menurutnya, bencana banjir bandang dan tanah longsor tersebut menyebabkan 95 orang meninggal dunia serta merusak lebih dari 3.000 hektare lahan persawahan. Selain sawah, sejumlah lahan perkebunan dan permukiman masyarakat juga terdampak.
“Bencana ini membuat sungai-sungai Batang Toru dan Garoga membentuk aliran baru yang di beberapa wilayah melintasi desa maupun perkebunan masyarakat. Akibatnya, lahan pertanian dan perkebunan mengalami kerusakan karena terendam dalam waktu cukup lama,” ujarnya.
Bupati menjelaskan, dampak bencana juga dirasakan terhadap perekonomian daerah. Sebelum bencana, pertumbuhan ekonomi Tapsel berada di atas 5 persen. Namun, pada triwulan terakhir 2025, pertumbuhan ekonomi terkoreksi tajam menjadi sekitar 2,49 persen.
Kondisi tersebut, lanjutnya, tidak terlepas dari besarnya kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian Tapsel. Sekitar 44 persen struktur ekonomi daerah berasal dari sektor pertanian, sementara ribuan hektare lahan pertanian mengalami kerusakan akibat bencana.
“Pada triwulan pertama 2026 pertumbuhan ekonomi memang naik menjadi 3,49 persen. Tetapi angka ini masih jauh di bawah rata-rata pertumbuhan sebelum bencana,” katanya.
Karena itu, Gus Irawan menyambut baik penelitian multidisiplin yang dilakukan para akademisi dari berbagai perguruan tinggi. Menurutnya, hasil kajian tersebut sangat dibutuhkan sebagai dasar pemerintah daerah dalam menentukan langkah pemulihan dan pembangunan ke depan.
“Kami berharap dari riset dan diskusi ini ada rekomendasi kepada kami di Tapanuli Selatan, bagaimana menjaga alam dan ekosistem Batang Toru. Kami tidak akan mampu melakukannya sendiri, apalagi kewenangannya tidak seluruhnya berada di pemerintah kabupaten,” tegasnya.
Ia juga menyoroti besarnya perhatian nasional maupun internasional terhadap ekosistem Batang Toru. Menurutnya, perhatian tersebut harus diwujudkan dalam bentuk dukungan dan aksi nyata untuk menjaga kelestarian lingkungan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Gus Irawan juga mendorong agar potensi carbon credit dan berbagai skema ekonomi berbasis lingkungan dapat dikembangkan di kawasan tersebut. Menurutnya, upaya konservasi harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Apapun yang kita lakukan, pertanyaan mendasarnya adalah manfaat apa yang bisa dirasakan masyarakat. Partisipasi masyarakat itu mutlak. Kalau masyarakat tidak merasakan manfaatnya, kita akan berhadapan dengan masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala BBKSDA Sumatera Utara Novita Kusumawardani mengatakan Bentang Alam Batang Toru merupakan kawasan yang sangat penting, bukan hanya bagi Tapanuli Selatan, tetapi juga bagi Tapanuli Utara dan Tapanuli Tengah.
Ia menjelaskan, kawasan tersebut merupakan habitat penting bagi orangutan Tapanuli yang memiliki nilai konservasi sangat tinggi. Berdasarkan hasil survei BBKSDA bersama mitra, populasi orangutan Tapanuli mengalami penurunan, meskipun tingkat penurunannya relatif lebih kecil dibandingkan populasi orangutan Sumatera maupun Kalimantan.
“Karena orangutan Tapanuli hanya ada di Batang Toru, penurunan sekecil apa pun dampaknya akan sangat luar biasa bagi kelangsungan spesies tersebut. Karena itu, kita tidak cukup hanya membahas spesiesnya, tetapi juga bentang alam yang menjadi habitatnya,” jelas Novita.
Menurutnya, hasil penelitian para pakar sangat penting sebagai dasar pengambilan kebijakan berbasis ilmu pengetahuan. Penelitian yang dilakukan setelah bencana juga diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih objektif mengenai penyebab, dampak dan langkah penanganan yang diperlukan.
Novita mengatakan, BBKSDA Sumatera Utara sejak terjadinya bencana telah berkoordinasi dengan berbagai pihak dan melakukan pengumpulan data lapangan, termasuk menggunakan teknologi drone untuk memetakan dampak bencana.
“Kita membutuhkan rekomendasi dari para pakar agar ke depan kita tidak mengalami bencana yang sama seperti tahun lalu,” katanya.
Ia menegaskan, konservasi tidak boleh hanya berorientasi pada perlindungan keanekaragaman hayati, tetapi juga harus memperhatikan kehidupan masyarakat yang berada di dalam dan sekitar kawasan.
“Tidak mungkin kita bicara konservasi hanya soal keanekaragaman hayati. Kalau masyarakat lapar, akan muncul gangguan lagi. Masyarakat harus menjadi aktor utama, bukan hanya objek,” ujarnya.
Novita juga berharap hasil diseminasi tersebut tidak berhenti pada forum diskusi, tetapi dilanjutkan dengan rencana aksi bersama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, NGO, masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Sementara itu, Prof. Jatna Supriatna dari I-SER FMIPA UI dalam paparannya menekankan pentingnya pendekatan multidisiplin dalam menangani persoalan Bentang Alam Batang Toru.
Ia menyebut karakteristik geografis Batang Toru memiliki tingkat kemiringan dan kerawanan yang tinggi sehingga pembangunan infrastruktur harus mempertimbangkan kondisi geologi dan karakteristik bentang alam.
Menurutnya, curah hujan ekstrem pada November 2025 menjadi salah satu faktor yang memperbesar dampak bencana. Kondisi topografi yang terjal, karakteristik geologi serta material vulkanik di kawasan tersebut turut memengaruhi tingginya potensi erosi dan longsor.
Prof. Jatna juga memaparkan bahwa orangutan Tapanuli merupakan salah satu spesies yang memiliki nilai penting secara global. Karena populasinya terbatas dan habitatnya sangat spesifik, keberlangsungan spesies tersebut sangat bergantung pada kelestarian ekosistem Batang Toru.
Berdasarkan kajian yang dipaparkannya, bencana 2025 diperkirakan telah memberikan dampak terhadap populasi orangutan Tapanuli. Karena itu, tekanan terhadap habitat seperti konversi kawasan, pembangunan yang tidak memperhatikan daya dukung lingkungan, longsor dan potensi kebakaran perlu diminimalkan.
Selain konservasi, Prof. Jatna mendorong pengembangan ekonomi hijau di sekitar kawasan Batang Toru. Potensi hasil hutan bukan kayu seperti kopi, kakao dan madu, menurutnya, dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi tinggi dengan tetap menjaga fungsi ekologis kawasan.
Ia juga menyebut sejumlah peluang lain, seperti carbon credit, payment for ecosystem services, ekowisata berbasis satwa liar, serta pembentukan trust fund untuk mendukung pembiayaan konservasi jangka panjang.
“Solusinya harus multidisiplin dan interdisiplin. Kita harus mencari bagaimana orangutan dan Bentang Alam Batang Toru bisa tetap lestari, tetapi pada saat yang sama masyarakat memperoleh manfaat ekonomi,” ujarnya.
Prof. Jatna menambahkan, konsep konservasi ke depan tidak hanya berbicara tentang perlindungan kawasan, tetapi juga bagaimana mengubah potensi lingkungan menjadi sumber kesejahteraan masyarakat melalui skema ekonomi hijau yang berkelanjutan.
Melalui kegiatan diseminasi tersebut, para pemangku kepentingan diharapkan memiliki dasar ilmiah yang lebih kuat dalam merumuskan kebijakan pemulihan pascabencana, penataan ruang, perlindungan daerah aliran sungai, konservasi keanekaragaman hayati serta pengembangan ekonomi masyarakat.
Bupati Tapanuli Selatan menegaskan bahwa hasil penelitian tersebut harus menjadi awal dari langkah lanjutan yang konkret.
“Acara ini jangan berhenti di sini. Ini justru menjadi pemicu untuk kelanjutannya. Apa yang bisa kita lakukan sekarang, kita lakukan. Kami sangat terbantu dengan kajian-kajian ini dan berharap terus diberikan rekomendasi serta dukungan untuk menjaga ekosistem Batang Toru,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....