Optimalkan Embung Desa Tim USU Dampingi Masyarakat Desa Habeahan

  • 04 Agt 2026 18:04 WIB
  •  Sibolga
RRI.CO.ID, Humbahas - Tim Abdimas Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Sumatera Utara (LPPM USU) membantu masyarakat Desa Habeahan, Kecamatan Lintongnihuta, Kabupaten Humbang Hasundutan membangun embung desa seluas kurang lebih 4.800 meter persegi.
Hal itu dilakukan untuk mengoptimalkan kemanfaatan embung yang telah dibangun secara swadaya oleh masyarakat desa dan dibantu oleh USU.
Mulai bulan Juni tahun 2026, Tim Dosen USU telah melakukan serangkaian kegiatan pengabdian dalam bentuk penyuluhan dan pelatihan pemanfaatan embung untuk budidaya ikan, penataan tapak embung sebagai wahana pemancingan dan agrowisata.
Selain itu, pengadaan sarana pendukung (jaringan air bersih) bagi pengembangan embung, pelatihan pengelolaan usaha bagi pengurus lembaga pengelola embung dan pengurus Koperasi Merah Putih, praktek konservasi lingkungan di kawasan hulu dan sekitar embung, serta pengembangan usaha pengolahan pakan (pelet) ikan.
Ir. Yusak Maryunianta, MP Ketua Tim Abdimas didampingi anggota Tim Dosen Pengabdi yaitu Diana Chalil dan HM. Mozart B. Darus, dalam keterangannya, Senin, 3 Agustus 2026 menyampaikan, selain sebagai prasarana pengendali fluktuasi debit air dan konservasi air, warga Desa Habeahan didampingi oleh Tim Dosen USU akan terus mengembangkan embung menjadi prasarana yang bersifat multi-fungsi.
"Dalam beberapa tahun ke depan dan secara berkelanjutan akan mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat desa," ujarnya. Sementara Kepala Desa Habeahan, Rusman Sihombing menyatakan, bahwa masyarakat Desa Habeahan sangat antusias merespon seluruh rangkaian kegiatan pengabdian yang difasilitasi Tim Dosen USU ini.
“Antusiasme masyarakat terlihat jelas dari banyaknya warga yang hadir dan berpartisipasi langsung dalam setiap kegiatan, terutama dalam kegiatan FGD dan kegiatan gotong royong atau marsiadapari,” ucapnya. Dijelaskan, desa Habeahan yang memiliki kerawanan cukup tinggi terhadap kejadian bencana hidrometeorologi dan dibarengi dengan kondisi wilayah datar yang sebagian berwujud rawa gambut dan rentan terhadap fluktuasi air yang ekstrim.
Pada musim hujan, kawasan ini sering mengalami banjir akibat limpahan air yang tidak tertampung dengan baik karena minimnya sistem drainase dan penampungan air. "Sebaliknya, pada musim kemarau, masyarakat menghadapi kekeringan dan keterbatasan pasokan air untuk kebutuhan pertanian dan rumah tangga," tutupnya.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....