Kudatuli, Kemerdekaan Pers dan Berpendapat Jangan di Rusak
- 28 Jul 2026 16:21 WIB
- Sibolga
RRI.CO.ID, Tapteng - DPC PDI Perjuangan Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) menggelar dialog bertajuk 30 tahun peristiwa Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli (Kudatuli), mengenang perjuangan merawat demokrasi. Dialog melibatkan masyarakat dan mahasiswa berlangsung di Pandan Kupi, Jalan Oswald Siahaan pada Senin, 27 Juli 2026.
Sejarah singkatnya, Kudatuli merupakan konflik internal PDI masa orde baru yang memicu kerusuhan berdarah menimbulkan korban jiwa, ratusan orang luka-luka, dan puluhan jiwa dinyatakan hilang. Insiden ini terus dikenang sebagai sejarah kelam perusakan nilai demokrasi di Indonesia.
Meski Kudatuli terjadi di Jakarta dan tak merambah ke daerah, namun insiden itu perlu dikenang dan sebagai bukti konkrit 'matinya' demokrasi pada masa itu. Kini, proses demokrasi memiliki asas-asas yang harus diingat segenap bangsa.
"Sebagai generasi muda yang menikmati indahnya demokrasi, tentunya kegiatan ini adalah ruang refleksi mengingat salah satu peristiwa penting perjalanan sebuah demokrasi Indonesia dan mengedukasi generasi muda mengenal bentuk sejarah perjuangan mendapatkan kebebasan. Ini adalah momentum memahami besarnya pengorbanan dalam memperjuangkan demokrasi, kebebasan berpendapat, dan hak-hak sipil di Indonesia," kata Dennis Simalango.
"Tujuan kegiatan ini untuk mengenang peristiwa Kudatuli agar kita memahami bagaimana kerasnya perjuangan dalam memperjuangkan demokrasi. Melalui diskusi ini, kami berharap generasi muda memahami kondisi demokrasi yang kita rasakan hari ini tidak hadir begitu saja, tetapi merupakan hasil dari perjuangan panjang para pendahulu," lanjutnya.
Menurut Dennis, sejarah harus dipelajari agar tidak dilupakan. Pemahaman atas insiden masa lalu dinilai penting untuk membangun kesadaran dalam menjaga demokrasi agar tetap berjalan sesuai prinsip negara hukum, penghormatan terhadap hak asasi manusia.
Dikesempatan itu, kader PDI Perjuangan Turunan Gulo juga menyebut peristiwa Kudatuli menjadi salah satu titik balik perubahan politik nasional lalu membuka jalan bagi lahirnya reformasi. Turunan menilai, berbagai kebebasan yang kini dinikmati masyarakat seperti kebebasan pers, kebebasan berpendapat di muka umum, hingga ruang demokrasi lebih terbuka tidak dapat dipisahkan dari perjuangan sejak Kudatuli.
"Kebebasan pers dan kemerdekaan menyampaikan pendapat kita nikmati hari ini adalag bagian hasil perjuangan yang lahir setelah Kudatuli. Demokrasi tidak datang dengan sendirinya, tetapi diperjuangkan lewat pengorbanan yang besar," sebut Turunan.
"Mengulas situasi politik jelang peristiwa Kudatuli mulai dari kuatnya hegemoni politik negara, stabilitas dibangun lewat pendekatan represif, hingga munculnya dualisme di tubuh PDI memicu krisis legitimasi politik pada masa itu. Insiden itu lalu memicu gelombang kritik kepada pemerintah dan menjadi rangkaian yang mengantarkan Indonesia ke reformasi tahun 1998," tambahnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....