Pertamax Mahal, Pertashop di Sibolga Sepi Pembeli hingga Terancam Gulung Tikar

  • 16 Jun 2026 14:43 WIB
  •  Sibolga

RRI.CO.ID, Sibolga — Kenaikan harga yang sangat signifikan terhadap Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax memicu sepinya kunjungan pengendara di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Dampak paling parah dirasakan oleh para pelaku UMKM Pertashop dan Pertamini yang hanya menyediakan produk Pertamax.

Saat ini, harga Pertamax di wilayah Sumatra Utara (Sumut) dibanderol Rp16.650 per liter. Lonjakan harga ini mengakibatkan minimnya daya beli masyarakat pengendara terhadap BBM dengan Research Octane Number (RON) 92 tersebut.

Kondisi lesu ini salah satunya terlihat di SPBU Harapan yang berlokasi di Jalan Sisingamangaraja, Kota Sibolga. Berdasarkan pantauan dari pagi hingga sore hari, kawasan pengisian BBM tersebut tampak sepi dari kendaraan roda dua maupun roda empat. Hal ini terjadi lantaran pihak SPBU hanya menyediakan BBM jenis Pertamax dan Dexlite, tanpa menyediakan opsi BBM bersubsidi yang lebih murah.

Tidak hanya SPBU besar, hantaman ekonomi akibat kenaikan harga ini juga sangat terasa bagi para pelaku UMKM Pertamini dan Pertashop.

Salah satunya adalah Pertashop Bintang Karisma Abadi yang berada di Kelurahan Aek Habil, Kecamatan Sibolga Selatan. Suasana di Pertashop ini tampak lengang tanpa aktivitas berarti.

Mirisnya, para pengusaha tidak hanya dihadapkan pada harga modal yang tinggi, tetapi juga pasokan produk BBM jenis Pertamax yang minim. Akibat keterbatasan stok ini, Pertashop tersebut sering kali terpaksa tutup dan tidak bisa melakukan aktivitas penjualan.

"Kondisi ini berdampak langsung terhadap target penjualan kami, yang pada akhirnya berpengaruh besar pada penghasilan sehari-hari," ujar Gea, salah seorang petugas SPBU saat diwawancarai.

Keluhan serupa juga disampaikan oleh para pemilik modal. Pengusaha Pertashop mengaku sangat khawatir dengan kelangsungan bisnis mereka ke depan. Jika kondisi ini terus berlanjut, mereka mengaku terancam gulung tikar akibat biaya operasional yang tidak sebanding dengan pendapatan.

"Kami para pelaku UMKM BBM sangat khawatir dengan kelangsungan usaha ini. Jika tidak ada perubahan, kami terancam bangkrut," ungkap Jamil Zeb Tumori, salah seorang pengusaha Pertashop setempat.

Kini, para pengusaha SPBU maupun Pertashop yang mengandalkan penjualan Pertamax sangat berharap agar Pemerintah Pusat dapat kembali mempertimbangkan dan meninjau ulang kebijakan harga Pertamax yang dinilai terlampau tinggi tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....