Proyek revitalisasi di SMP Negeri 2 Pandan Nauli Tapteng yang sampai kini dibiarkan mangkrak. (Foto/rrimuafdan)
RRI.CO.ID, Tapteng - Pengerjaan proyek revitalisasi di SMP Negeri 2 Pandan Nauli, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) terkesan mangkrak. Dikerjakan sejak April 2026, proyek disebut-sebut bersumber dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), sampai Juni ini belum selesai.
Akibat mangkraknya pengerjaan proyek revitalisasi sekolah ini membuat para guru, orang tua, dan siswa di SMPN 2 Pandan Nauli resah, dan tidak nyaman melakukan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Selain ruangan kelas belum bisa digunakan, tumpukan material bangunan hasil bongkaran proses rehab maupun bahan material yang hendak digunakan, juga sangat mengganggu aktivitas para guru dan siswa.
Adapun proyek revitalisasi sekolah yang mangkrak di SMPN 2 Pandan Nauli yaitu rehab 6 unit ruangan kelas dan satu unit bangunan baru untuk ruang laboratorium IPA. Selain itu, papan proyek revitalisasi sejak awal pengerjaan juga tidak pernah terpajang di lokasi pekerjaan, sementara rekanan proyek dikabarkan menghindar dari komunikasi kepala sekolah.
Keresahan itu setidaknya dirasakan Glory Princes Habeahan, siswi SMPN 2 Pandan Nauli ditemui RRI mengaku kecewa, lambatnya pengerjaan proyek itu. Jika kondisi itu dibiarkan, maka sangat berpotensi mengganggu kesehatan dan keselamatan siswa juga guru saat beraktivitas, oleh sebab itu, Glori berharap proyek di sekolah mereka segera dikebut pengerjaannya.
"Kami mengajukan permohonan, sekolah SMP kami mengalami bencana alam pada tanggal 25 November yang berada di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pak sebagian ruangan kami sudah ada yang diperbaiki tetapi masih tergolong dengan jangkauan lambat pak. Jadi, mohon lah kepada bapak Presiden dan jajarannya agar menindaklanjuti dengan cepat sekolah kami," pinta Glory pada Kamis, 11 Juni 2026 di SMPN 2 Pandan Nauli.
Pengakuan yang sama juga disampaikan Cantika Ester Hasian Sijabat, masih siswi di SMPN 2 Pandan Nauli. Cantika membeberkan kondisi bangunan sekolah yang rusak parah dihantam bencana alam.
Diakui Cantika, bangunan rusak akibat bencana sedang diperbaiki oleh rekanan, namun hingga kini belum selesai, bahkan dibiarkan sekitar dua Minggu tanpa ada lagi pengerjaan. Cantika berharap proses belajar mengajar berjalan nyaman dan aman setelah proyek revitalisasi sekolah tuntas dilaksanakan.
"Di sini pak, kami merasakan dampak yang cukup besar terhadap bencana yang terjadi tahun lalu. Kami merasakan hal tersebut dari bangunan sekolah kami yang sudah rusak, hancur tertimpa oleh longsor," kata Cantika yang merupakan Ketua Osis SMPN2 Pandan Nauli .
"Memang sudah ada perbaikan, namun di akhir-akhir ini tepatnya kurang lebih 2 minggu, sudah berhenti pengerjaan pak. Kami berharap jajaran bapak Presiden Subianto untuk dapat menindaklanjuti keluhan kami, supaya proses belajar mengajar kembali normal," tambahnya.
Kepala SMPN 2 Pandan Nauli, Nur Ekvan menyebut ada 6 ruang kelas dan satu lab IPA yang dikerjakan. Namun, pengerjaan proyek revitalisasi sekolah, progresnya terkesan lambat, sekaligus Ia berharap pengerjaan proyek tersebut dapat tuntas dan digunakan pada tahun ajaran baru di pertengahan Juli mendatang.
"Sebenarnya ruang kelas kita ada yang terdampak bencana longsor dan satu laboratorium, mulai bulan April kemarin sudah dibangun dari Kodam. Tetapi progresnya sangat lambat, dan bahkan sebelum lebaran Haji, pekerja sudah libur sampai sekarang," jelas Ekvan.
"Selama ini, KBM kita setelah longsor itu dibagi dua sesi, karena dampak bencana itu sangat luar biasa. Prestasi di sekolah kita pun merosot, karena KBM terganggu oleh ruangan yang rusak, dan kami harap penuntasan rehab dan bangunan baru segera dilaksanakan," lanjutnya.
Hingga berita ini diterbitkan, rekanan proyek belum dapat ditemui untuk mengklarifikasi mangkraknya proyek revitalisasi sekolah di SMPN 2 Pandan Nauli tersebut.