PERMAMPU Soroti Lambannya Penanganan Bencana di Pulau Sumatera
- 29 Mei 2026 15:27 WIB
- Sibolga
RRI. CO. ID, Sibolga - Konsorsium Perempuan Sumatera Mampu (PERMAMPU), Forum Komunitas Perempuan Akar Rumput (FKPAR) Sumatera, dan jaringan CSO’s dari Aceh, Sumatera Utara, serta Sumatera Barat menyoroti lambannya penanganan bencana ekologis yang melanda 53 kabupaten/kota di tiga provinsi tersebut selama enam bulan terakhir.
Mereka menilai hingga kini masih banyak penyintas yang tinggal di hunian tidak layak, minim layanan dasar, serta belum menerima bantuan stimulan, dana tunggu hunian, maupun bantuan hidup sehari-hari. Kondisi tersebut dinilai bertentangan dengan amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang menjamin hak korban sesuai standar pelayanan minimum.
Staf Flower Aceh, Erna, mengungkapkan adanya perbedaan kualitas hunian sementara bagi korban bencana di Desa Babah Krueng, Kecamatan Sawang, Aceh Utara.
“Kami menemukan huntara yang dibangun Danantara jauh lebih layak dibanding yang dibangun BNPB. Huntara BNPB terasa panas, tidak memiliki dapur, dan sistem pembuangan limbahnya tidak standar, padahal kebutuhan perempuan sangat penting diperhatikan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti peristiwa kebakaran yang terjadi pada 27 Mei 2026 di desa tersebut akibat tumpukan kayu dan tanaman kering yang belum dibersihkan pascabencana.
Sementara itu, staf PESADA, Ramida Sinaga, menyebut penyintas banjir di Desa Hutanabolon dan sejumlah desa di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, yang mengungsi ke Rusunawa Pandan juga menghadapi kondisi serupa.
“Orang tua harus naik hingga lantai tiga, membayar biaya listrik sendiri, dan kondisi lingkungan masih kurang bersih,” katanya.
Persoalan tersebut mengemuka dalam pertemuan hybrid bertajuk “Gerakan Penyadaran dan Advokasi Pengembangan Resiliensi Perempuan dan Kepekaan terhadap Kebutuhan Strategis Perempuan Lanjut Usia, Kelompok Rentan dan Keluarga Penyintas Bencana Banjir Ekologi Sumatera” yang digelar 23 Mei 2026.
Pertemuan itu diikuti 290 peserta dari 35 titik zoom yang terdiri dari perempuan akar rumput, lansia, kader komunitas, NGO, akademisi, hingga jurnalis.
Dalam forum tersebut, peserta menilai respons pemerintah terhadap bencana ekologis di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat masih berjalan lambat dan belum menunjukkan penanganan serius terhadap kebutuhan para penyintas, khususnya perempuan, lansia, dan kelompok rentan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....