Dipicu Tekanan Ekonomi, Perempuan Rela Jadi Penarik Betor

  • 14 Mei 2026 14:09 WIB
  •  Sibolga
RRI.CO.ID, Sibolga - Sulitnya kondisi perekonomian dan himpitan kebutuhan hidup sehari-hari, telah mendorong sejumlah perempuan di Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah mengambil keputusan untuk menjalani profesi sebagai penarik becak bermotor (Betor).

Pekerjaan yang selama ini identik dengan kaum laki-laki itu kini dijalani dengan penuh tanggung jawab demi mencukupi kebutuhan hidup keluarga yang semakin terasa berat.

Nuratina (38 tahun), seorang di antara perempuan tangguh tersebut, mengaku baru menggeluti profesi penarik becak bermotor selama enam bulan terakhir. Warga Sibuluan Tapteng ini menyatakan, pilihan itu diambilnya setelah penghasilan dari pekerjaan sebelumnya sebagai buruh cuci tidak lagi mampu menutupi biaya kebutuhan hidup sehari-hari serta biaya sekolah anak-anaknya.

“Awalnya malu dan takut tidak sanggup, tapi apa daya, suami saya telah meninggal dunia empat tahun lalu, siapa lagi yang harus bertanggung jawab untuk keluarga," ujar Nuratina saat ditemui di kawasan Simpang Lima Sibolga, Rabu, 13 Mei 2026.

Ibu dua anak menuturkan, setiap hari dirinya berangkat pukul 06.30 Wib pagi dan baru pulang ke rumah sekitar pukul lima sore.

"Pagi-pagi kta keluar sambil mengantar anak ke sekolah, setelah itu kita langsung menarik mencari sewa," ucapnya.

Meskipun harus menahan sengatan terik maupun hujan di jalanan, serta badan terasa lelah, namun Nuratina mengaku tetap bertahan karena tanggung jawab untuk membesarkan dan menyekolahkan kedua anaknya.

Di tempat terpisah, Erlinawati, perempuan penarik becak lainnya yang ditemui di seputaran Pasar Inpres Aek Habil Sibolga, mengaku hasil yang didapat sebagai penarik becak bermotor dianggap lebih pasti dibandingkan pekerjaan sebelumnya sebagai buruh bangunan.

“Lumayanlah hasilnya cukup untuk beli beras dan kebutuhan sehari-hari. Kalau rajin, kadang masih ada sisa sedikit untuk ditabung,” ujar Erlinawati.

Menurut Nuratina, ia harus melawan pandangan sebagian masyarakat yang masih menganggap profesi ini tidak pantas bagi wanita, namun ia menyebut lebih mengutamakan menutupi kebutuhan keluarga daripada pendapat orang lain.

“Yang penting halal dan tidak merugikan siapa pun. Saya tidak meminta belas kasihan, hanya ingin berusaha menghidupi anak-anak saya dengan cara yang jujur,” ucapnya.

Ia pun berharap kondisi perekonomiannya dapat segera membaik agar nantinya ia bisa beralih ke pekerjaan yang lebih ringan dan sesuai dengan kodratnya.

"Semoga pemerintah lebih memperhatikan nasib rakyat kecil, supaya kami tidak harus bekerja seberat ini hanya untuk sekadar bertahan hidup,” ujar Erlinawati.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....