Bupati Tapsel Perkenalkan Varietas Padi Gama Gora

  • 10 Mar 2026 15:02 WIB
  •  Sibolga

RRI.CO.ID, Tapsel - Diharapkan menjadi solusi untuk memulihkan produksi pertanian setelah sekitar 3.000 hektare sawah di Tapanuli Selatan (Tapsel) gagal panen akibat bencana pada akhir November 2025, Bupati Tapsel Gus Irawan Pasaribu memperkenalkan Gama Gora, varietas padi baru kepada warga desa Janji Manaon, Kecamatan Batang Angkola, Senin, 9 Maret 2026.

Gus Irawan menjelaskan bahwa nama Gama Gora berasal dari persilangan dua jenis padi.

Gama singkatan dari Gajah Mada, karena varietas ini dikembangkan oleh peneliti dari Universitas Gadjah Mada. Sedangkan Gora merupakan singkatan dari gogo rancah, yaitu hasil persilangan padi darat dan padi air.

“Varietas tersebut cocok ditanam di lahan sawah dengan ketersediaan air terbatas atau tidak tergenang. Pemerintah daerah berharap teknologi benih itu dapat menjadi alternatif bagi petani ketika memasuki musim kemarau,” ujar Gus Irawan

Gama Gora kata Gus Irawan merupakan bantuan dari Bank Indonesia. Ia juga telah meminta dilakukan penangkaran benih varietas baru ini di wilayah Tapanuli Selatan agar petani lebih mudah mendapatkannya.

“Varietas ini telah diuji coba melalui demplot di wilayah Tatengger. Hasilnya, produktivitasnya mencapai 9,6 ton per hektare dengan masa panen sekitar 80 hari. Selain cepat panen, kualitas berasnya juga enak,” jelasnya.

Untuk memastikan varietas itu benar-benar adaptif dengan kondisi lahan di Tapanuli Selatan, pemerintah daerah saat ini kembali melakukan uji tanam di dua lokasi lain, yakni Kecamatan Sayurmatinggi dan Tano Tombangan Angkola.

Ia juga menyarankan petani menanam Gama Gora saat debit air sawah sedang rendah dan petani berpeluang menambah intensitas tanam hingga tiga kali dalam setahun. Menurut Gus Irawan, pemulihan produksi padi menjadi salah satu kunci memperbaiki pertumbuhan ekonomi daerah yang terdampak bencana.

“Pertumbuhan ekonomi kita pada triwulan ketiga masih sekitar 5,2 persen. Namun pada triwulan terakhir turun menjadi 2,39 persen. Penurunan ini antara lain, disebabkan hilangnya produksi dari sekitar 3.000 hektare sawah yang biasanya menghasilkan rata-rata 5,5 ton per hektare atau sekitar 16.500 ton gabah,” sebutnya.

Kemudian ia mengajak para petani meningkatkan produksi dengan memanfaatkan varietas baru tersebut agar sektor pertanian kembali mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....