Ramadan Rame di Awal, tapi Sepi di Akhir
- 10 Mar 2026 23:59 WIB
- Sibolga
RRI.CO.ID, Sibolga – Memasuki pertengahan hingga akhir bulan suci Ramadan, sebuah fenomena klasik kembali menjadi sorotan. Masjid dan mushala yang pada awal bulan tampak penuh sesak oleh jemaah, kini perlahan mulai menunjukkan barisan saf yang semakin lengang.
Ustazah Adek Andriani menjelaskan bahwa faktor kelelahan fisik dan pergeseran fokus menjadi penyebab utama mengapa semangat beribadah sering kali kendor di pekan-pekan terakhir. Menurutnya, banyak masyarakat yang terlalu jor-joran di awal, namun tidak mengatur strategi agar konsisten hingga akhir.
| Baca juga: Ramadan Momentum Kembali Jadi Lebih Baik |
"Kita sering melihat di awal Ramadan masjid tidak muat menampung jemaah. Namun, seiring berjalannya waktu, fokus masyarakat mulai terbagi antara ibadah dan persiapan teknis menyambut Idul Fitri, seperti belanja pakaian baru atau memikirkan menu hidangan lebaran," ujar Ustazah Adek dalam program religi "Tauladan" yang disiarkan langsung oleh Pro 2 RRI Sibolga pada Jumat, 6 Maret 2026.
Ia menegaskan bahwa dalam pandangan Islam, 10 hari terakhir Ramadan justru merupakan fase yang paling krusial. Pada periode inilah terdapat malam Lailatul Qadar, sebuah malam yang kemuliaannya lebih baik daripada seribu bulan, yang seharusnya dikejar dengan intensitas ibadah yang lebih tinggi.
Untuk mengatasi rasa lelah atau kejenuhan dalam beribadah, Ustazah Adek menyarankan jemaah untuk selalu memperbarui niat setiap harinya. Ia menekankan bahwa konsistensi atau istiqamah jauh lebih dicintai oleh Allah SWT dibandingkan amal yang besar di awal namun terputus di tengah jalan.
"Jangan sampai kita menjadi 'hamba Ramadan' yang hanya rajin saat suasana masih baru. Kita harus menjadi hamba Allah yang menyadari bahwa setiap detik di penghujung bulan ini adalah kesempatan emas yang belum tentu kita temui lagi tahun depan," tambahnya.
Selain faktor internal, Ustazah Adek juga mendorong para kepala keluarga untuk lebih aktif mengajak anak dan istri tetap ke masjid. Menurutnya, lingkungan keluarga yang saling mendukung akan menciptakan suasana ibadah yang tetap hangat meskipun rasa lelah mulai melanda.
Sebagai penutup, ia berpesan agar masyarakat tidak terjebak dalam euforia persiapan duniawi semata. Keberhasilan Ramadan seseorang, menurutnya, tidak dilihat dari meriahnya baju baru, melainkan dari seberapa kuat ia bertahan dalam ketaatan hingga hari kemenangan tiba.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....