SOTR, Tren Anak Muda dan Semangat Berbagi di Jalanan

  • 10 Mar 2026 22:55 WIB
  •  Sibolga

RRI.CO.ID, Sibolga – Suasana dini hari di berbagai sudut kota kini semakin hidup dengan iring-iringan kendaraan yang menjalankan tradisi Sahur on the Road atau SOTR. Fenomena yang memadukan aktivitas berkendara dengan aksi sosial ini telah menjadi pemandangan ikonik setiap bulan Ramadan, di mana jalanan berubah menjadi ruang interaksi bagi komunitas yang ingin berbagi kebahagiaan melalui pembagian makanan sahur.

Istilah SOTR merujuk pada kegiatan menyantap hidangan sahur di luar rumah atau di jalanan. Fenomena ini mulai berkembang menjadi tren nasional sejak awal tahun 2000-an, yang awalnya dipopulerkan oleh media massa sebagai momentum untuk membangunkan masyarakat sekaligus menjalankan tradisi komunal dalam kemasan yang lebih modern.

Irfan, menjelaskan bahwa konsep dasar SOTR memiliki tujuan mulia, yaitu menyasar panti asuhan atau masyarakat kurang mampu untuk berbagi hidangan. "Awalnya, SOTR lahir dari semangat anak muda dan komunitas sosial yang ingin sahur bersama sambil berbuat baik kepada mereka yang membutuhkan di jalanan," ujar Irfan dalam program Celoteh Ramadan di Pro 2 RRI Sibolga pada Kamis, 5 Maret 2026.

Meskipun bertujuan positif, praktiknya di lapangan kini sering kali menghadapi tantangan terkait ketertiban umum. Adanya potensi gesekan antar-kelompok hingga gangguan keamanan lalu lintas membuat kegiatan ini kerap mendapatkan pengawasan ketat, bahkan imbauan larangan dari pihak kepolisian di berbagai daerah demi menjaga kekhusyukan ibadah.

Secara edukatif, diskusi ini mengungkap bahwa SOTR saat ini sudah jauh lebih terorganisir dibandingkan masa lalu. Banyak komunitas yang kini menerapkan sistem kepanitiaan, koordinasi dengan pihak keamanan, hingga pendataan lokasi distribusi makanan agar bantuan yang diberikan tepat sasaran dan tidak mengganggu kenyamanan publik.

Kementerian Agama memandang SOTR sebagai salah satu bentuk kreativitas masyarakat dalam merayakan Ramadan. Kegiatan yang biasanya ditutup dengan pengajian atau salat Subuh berjemaah ini dinilai mampu mempererat tali persaudaraan antar-anggota komunitas sekaligus menumbuhkan rasa empati terhadap sesama.

Di Kota Sibolga, semangat SOTR diarahkan pada kegiatan yang lebih substantif dan tenang. Andre menekankan bahwa dokumentasi yang sering diunggah ke media sosial bukan sekadar untuk tren, melainkan bentuk pertanggungjawaban kepada donatur serta ajakan positif bagi generasi muda lainnya agar terus menebar kebaikan.

"Penting bagi kita untuk memastikan bahwa niat baik berbagi ini tidak boleh sampai mengganggu ketertiban umum atau mengabaikan aturan keamanan yang ada. Saya berharap semangat berbagi di jalanan ini tetap berpijak pada nilai kemanusiaan dan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab sehingga esensi berbagi yang sesungguhnya tetap terjaga tanpa mencederai kerukunan warga," tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....