Ramadan Momentum Emas Reset Hati dan Upgrade Diri
- 05 Mar 2026 21:08 WIB
- Sibolga
RRI.CO.ID, Sibolga-Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, kesiapan spiritualitas menjadi kunci utama bagi umat Muslim untuk meraih perubahan karakter yang substansial. Ustazah Adek Andriani, menegaskan bahwa indikator utama hati yang perlu di-reset adalah munculnya rasa malas beribadah serta penyakit hati seperti iri dan dengki.
Menurutnya, Ramadan harus dipandang sebagai laboratorium spiritual untuk meningkatkan kualitas diri, baik dalam hubungan dengan Tuhan maupun sesama manusia. Ia menambahkan bahwa tanpa proses pembersihan hati, semangat ibadah yang muncul di awal bulan suci sering kali akan meredup dan gagal mencapai konsistensi di pertengahan jalan.
"Reset hati berarti membersihkan ruang batin dari luka lama dan kebencian agar cahaya Ramadan bisa masuk dengan sempurna," ujar Ustazah dalam program Tauladan di Pro 2 RRI Sibolga pada Jumat, 27 Februari 2026.
Adek menjelaskan bahwa proses upgrade diri yang paling utama adalah memperbaiki kualitas salat dan interaksi dengan Al Quran, bukan sekadar mengejar target kuantitas. "Ramadhan bukan ajang perlombaan khatam Quran semata, melainkan momentum untuk meng-upgrade pemahaman dan pengamalan nilai-nilai wahyu dalam perilaku sehari-hari,"tambahnya.
Dalam tausiyahnya, ia mengutip sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang menekankan pentingnya menjaga lisan dan hati saat berpuasa. Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan melakukan kemaksiatan, maka Allah tidak butuh terhadap tindakannya meninggalkan makan dan minumnya."
Hadis ini, menurut Adek, menjadi dasar kuat bahwa esensi puasa adalah pengendalian diri secara menyeluruh.
| Baca juga: Mengendalikan Hati di Bulan Ramadan |
Terkait tantangan zaman, Adek juga menyoroti peran media sosial yang sering kali menjadi penghambat proses penjernihan hati. Ia menekankan bahwa membatasi konsumsi konten negatif dan menjauhi ghibah digital merupakan bagian dari strategi upgrade mentalitas Muslim modern agar lebih fokus pada perbaikan kualitas batin selama bulan suci.
Menjawab pertanyaan pendengar mengenai sulitnya memaafkan, Adek memberikan perspektif bahwa memaafkan adalah cara memuliakan diri sendiri. Beliau menyatakan, "Memaafkan bukan berarti melupakan kesalahan, melainkan melepaskan beban benci agar hati kita menjadi ringan dan layak menerima keberkahan malam Lailatul Qadar," ujarnya.
Sebagai penutup , Adek Andriani berpesan agar umat Muslim tidak berkecil hati jika merasa Ramadan tahun lalu belum maksimal. Ia menegaskan bahwa setiap detik di bulan suci yang akan datang adalah kesempatan emas yang diberikan Allah untuk memulai lembaran baru yang lebih bersih dan berkualitas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....