Memaafkan dan Batas "Cut Off" yang Diperbolehkan
- 05 Mar 2026 20:47 WIB
- Sibolga
RRI.CO.ID, Sibolga - Menjaga kesehatan mental melalui pembatasan hubungan sosial atau cut off kini menjadi fenomena yang kerap diperdebatkan dari sudut pandang agama. Ustazah Zuhriani Hutagalung, menegaskan bahwa memaafkan adalah kewajiban mutlak bagi setiap Muslim untuk membersihkan hati dari belenggu dendam. Namun, ia menggarisbawahi bahwa memaafkan tidak otomatis berarti seseorang harus kembali menjalin hubungan akrab seperti sedia kala, terutama jika hubungan tersebut bersifat toksik.
Menurut Zuhriani, tindakan menjaga jarak atau membatasi komunikasi diperbolehkan dalam Islam selama tujuannya adalah untuk menghindari kemudaratan yang lebih besar. "Menghindari pertengkaran dan menjaga kesehatan mental adalah bentuk ikhtiar menjaga diri yang dibenarkan syariat," ujar Zuhriani pada program Tauladan Minggu, 1 Maret 2026.
Ia menjelaskan lebih lanjut bahwa batasan ini menjadi penting agar seseorang tidak terus-menerus terjebak dalam lingkaran dosa, seperti ghibah atau konflik berkepanjangan. "Islam tidak mengajarkan umatnya untuk terus berada dalam luka; menjaga batasan adalah cara kita memuliakan diri sendiri tanpa harus membenci orang lain." ujarnya.
Zuhriani kemudian mengutip sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim untuk memperkuat argumentasinya mengenai batas waktu mendiamkan sesama Muslim. Rasulullah SAW bersabda: "Tidak halal bagi seorang Muslim untuk mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam." Hadis ini, menurutnya, merujuk pada pemutusan silaturahmi karena hawa nafsu dan kebencian, bukan pengaturan jarak demi keselamatan jiwa.
Lebih lanjut, Zuhriani mengingatkan bahwa menjaga jarak yang sehat tetap harus dibarengi dengan hati yang bersih tanpa menyimpan niat membalas sakit hati. Ia menekankan, "Jika kita menjauh hanya untuk menyakiti balik atau memutus silaturahmi tanpa alasan syar’i, itulah yang justru akan membuat pahala ibadah kita tertahan," tambahnya.
Persoalan ini menjadi krusial karena menyangkut kualitas ibadah puasa yang sedang dijalani umat Islam di bulan suci. Tanpa keikhlasan dalam memaafkan, narasumber menyebutkan bahwa pahala puasa seseorang dikhawatirkan hanya akan menggantung di antara langit dan bumi tanpa sampai kepada Allah SWT karena masih adanya ganjalan hak sesama manusia.
Sebagai penutup, Zuhriani berpesan agar masyarakat tetap mengedepankan akhlak mulia meski dalam posisi menjaga jarak. "Prinsipnya adalah menjaga jarak tanpa dendam, tetap mendoakan kebaikan bagi mereka, dan tetap bertegur sapa dengan cara yang makruf jika memang diharuskan bertemu," tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....