Maraknya Pedagang Baju Bekas Jelang Lebaran
- 27 Mar 2025 14:39 WIB
- Sibolga
KBRN, Sibolga : Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1446 H, pedagang pakaian baru biasanya menikmati lonjakan penjualan. Namun, tahun ini, kondisi berbeda dirasakan banyak pedagang akibat maraknya peredaran baju bekas impor yang semakin mendominasi pasar.
Aril Siregar, seorang pedagang pakaian baru di Pasar Nauli Sibolga, mengungkapkan kekhawatirannya. Menurutnya, lonjakan penjualan yang biasa terjadi saat Ramadan kini tidak terasa karena banyak konsumen beralih ke pakaian bekas yang lebih murah.
“Biasanya menjelang Lebaran seperti ini ramai pembeli, tapi sekarang menurun drastis. Banyak orang lebih memilih baju bekas karena harganya jauh lebih murah, bahkan bisa setengah dari harga baju baru,” kata Aril saat Opini Publik Pro 1, Selasa (25/3/2025).
Menurutnya, baju bekas impor yang dijual di berbagai pasar dan platform online menjadi pesaing berat bagi pedagang baju baru. Konsumen tergiur dengan merek luar negeri yang dijual dengan harga miring, meskipun kualitasnya tidak selalu terjamin.
“Kami pedagang baju baru jadi sulit bersaing. Padahal, kami menjual barang dengan kualitas terjamin dan sesuai standar kesehatan. Kalau terus seperti ini, bisa-bisa kami gulung tikar,” keluhnya.
Pemerintah sebenarnya telah melarang impor pakaian bekas karena dianggap merugikan industri tekstil dalam negeri. Namun, hingga kini, peredaran baju bekas impor masih marak, terutama menjelang Lebaran.
Para pedagang baju baru berharap pemerintah segera bertindak tegas agar persaingan usaha tetap sehat. “Kami tidak melarang orang berjualan, tapi seharusnya ada aturan yang adil. Kalau kami pedagang baju baru terus dirugikan, bagaimana nasib usaha kami ke depan?” kata Aril.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....