Soroti Pemboikotan Siaran Piala Dunia 2026 oleh Korea Utara
- 24 Jun 2026 12:25 WIB
- Sibolga
RRI.CO.ID, Sibolga - Kebijakan Pemerintah Korea Utara yang dikabarkan menghilangkan sejumlah pertandingan dari tayangan Piala Dunia 2026 menjadi perhatian dunia olahraga. Berdasarkan laporan yang dilansir dari viva.co.id, terdapat tiga negara yang pertandingan tim nasionalnya tidak ditayangkan oleh media Korea Utara, yakni Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Jepang.
Langkah tersebut disebut berkaitan dengan faktor politik dan sejarah yang selama ini mewarnai hubungan Korea Utara dengan ketiga negara tersebut. Selain itu, laporan tersebut juga menyebutkan bahwa media pemerintah Korea Utara tidak memiliki hak siar resmi dari FIFA dan menayangkan pertandingan melalui siaran satelit dari negara tetangga.
Irfan Sihotang, Pemerhati dan Pengamat Sepak Bola kota Sibolga, saat Ngobras Pro 1, Selasa, 24 Juni 2026 menilai olahraga idealnya menjadi sarana pemersatu bangsa yang terlepas dari kepentingan politik. Namun, dalam praktiknya, sepak bola kerap tidak dapat dipisahkan dari dinamika hubungan antar negara.
“Sepak bola merupakan olahraga yang memiliki pengaruh besar di masyarakat. Ketika pertandingan tertentu tidak ditayangkan karena alasan politik, tentu hal itu membatasi akses masyarakat untuk menikmati ajang olahraga yang seharusnya dapat dinikmati secara luas,” kata Irfan.
| Baca juga: Dramatis, Belanda dan Jepang Imbang |
Menurutnya, Piala Dunia merupakan ajang yang mempertemukan berbagai negara dan budaya dalam semangat sportivitas. Oleh karena itu, setiap pertandingan memiliki nilai penting bagi para penggemar sepak bola untuk melihat perkembangan dan kualitas tim peserta dari seluruh dunia.
Irfan menambahkan bahwa fenomena tersebut menunjukkan bagaimana olahraga dan politik masih memiliki keterkaitan yang kuat di sejumlah negara. Meski demikian, ia berharap kompetisi internasional seperti Piala Dunia tetap dapat menjadi wadah persahabatan dan mempererat hubungan antar bangsa.
“Sepak bola memiliki kekuatan untuk menyatukan perbedaan. Harapannya, ajang sebesar Piala Dunia dapat menjadi momentum untuk membangun komunikasi dan saling pengertian antar negara melalui olahraga,” kata Irfan.
Kebijakan pemboikotan siaran tersebut kembali memunculkan diskusi mengenai kebebasan akses informasi olahraga di berbagai negara. Di tengah perkembangan teknologi dan media global saat ini, masyarakat semakin mudah memperoleh informasi dan mengikuti perkembangan turnamen internasional dari berbagai sumber.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....