Tekanan Rupiah Dinilai Dipengaruhi Konflik Global

  • 20 Mei 2026 15:51 WIB
  •  Sibolga

RRI.CO.ID, Sibolga - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mengalami tekanan signifikan dan disebut sempat berada pada kisaran 17.500 rupiah hingga 17.600 rupiah per dolar AS. Kondisi ini dinilai dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, terutama akibat eskalasi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah serta kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat.

Hendra Sahputra, Tenaga Pendidik sekaligus Pemerhati Ekonomi kota Sibolga, saat Dialog Sibolga Menyapa Pro 1, Selasa, 19 Mei 2026 via selular mengatakan saat ini gejolak global memiliki dampak besar terhadap stabilitas nilai tukar berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia. Menurutnya, meningkatnya tensi geopolitik membuat investor global cenderung memindahkan aset mereka ke instrumen yang dianggap lebih aman seperti dolar AS.

“Ketika konflik geopolitik meningkat, pasar keuangan global biasanya mengalami tekanan. Investor akan mencari Aset Safe Haven, dan Dolar Amerika Serikat menjadi pilihan utama. Hal ini menyebabkan permintaan dolar meningkat dan menekan nilai tukar rupiah,” kata Hendra.

Ia juga menjelaskan, selain faktor geopolitik, kebijakan suku bunga tinggi yang diterapkan Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve juga menjadi penyebab utama melemahnya rupiah. Tingginya suku bunga di AS membuat arus modal asing keluar dari negara berkembang karena investor lebih tertarik menempatkan dana mereka di pasar Amerika yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

“Keluarnya aliran modal asing dari pasar domestik dapat memberikan tekanan pada pasar keuangan nasional, termasuk nilai tukar rupiah dan pasar saham. Kondisi ini juga berdampak terhadap meningkatnya biaya impor dan potensi kenaikan harga barang didalam negeri,” ujar Hendra.

Hendra menilai pelemahan rupiah perlu menjadi perhatian serius karena dapat memengaruhi berbagai sektor ekonomi, terutama industri yang bergantung pada bahan baku impor. Selain itu, masyarakat juga berpotensi menghadapi kenaikan harga kebutuhan tertentu akibat meningkatnya biaya distribusi dan produksi. “Ketika rupiah melemah, biaya impor menjadi lebih mahal. Dampaknya bisa dirasakan pada harga barang, biaya produksi industri, hingga daya beli masyarakat.”

Meski demikian, Hendra optimistis pemerintah dan Bank Indonesia memiliki instrumen untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Menurutnya, penguatan cadangan devisa, kebijakan moneter yang terukur, serta upaya menjaga kepercayaan investor menjadi langkah penting dalam menghadapi tekanan global tersebut.

Ia berharap kondisi geopolitik dunia segera membaik sehingga stabilitas pasar keuangan global dapat kembali terjaga. Selain itu, ia mengingatkan pentingnya memperkuat ketahanan ekonomi domestik agar Indonesia tidak terlalu rentan terhadap gejolak ekonomi internasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....