Suka Selfie disebut NPD? Stop Labeli Orang Sembarangan di Sosial Media !
- 20 Jun 2026 10:16 WIB
- Sibolga
RRI.CO.ID, Sibolga– Istilah Narcissistic Personality Disorder atau yang lebih akrab dikenal sebagai NPD, akhir-akhir ini kerap berseliweran dan menjadi perbincangan hangat di berbagai media sosial. Banyak masyarakat, khususnya generasi muda, secara mudah menyematkan label "NPD" kepada seseorang hanya karena individu tersebut dinilai senang memamerkan pencapaian atau gemar berswafoto (selfie).
Padahal, dalam ranah medis, NPD merupakan sebuah gangguan psikologis formal yang memerlukan diagnosis mendalam dari para ahli, bukan sekadar sifat narsistik biasa. Terdapat batasan yang sangat tegas antara rasa percaya diri yang tinggi, narsistik wajar, dan gangguan kepribadian narsistik (NPD).
Rasa percaya diri atau narsistik dalam batas wajar itu sehat karena membuat seseorang menghargai dirinya sendiri. Namun, pada pengidap NPD, kondisi tersebut sudah masuk dalam kategori gangguan kepribadian yang kaku.
Karakteristik utamanya adalah kebutuhan ekstrem untuk selalu dikagumi secara berlebihan, rasa mementingkan diri sendiri yang sangat tinggi, serta yang paling krusial adalah tidak adanya empati atau ketidakmampuan untuk memahami perasaan orang lain. Perilaku ini biasanya pola menetap yang sampai memanipulasi dan merusak hubungan interpersonal di sekitarnya.
Salah satu pendengar Pro 2 RRI Sibolga, Lestari. Ia mengaku sempat keliru memahami arti dari istilah tersebut akibat derasnya arus informasi yang kurang akurat di media sosial.
“Dulu kalau melihat ada teman di media sosial yang sering mengunggah foto diri atau terkesan sombong, saya dan teman-teman langsung spontan menyebutnya NPD. Setelah membaca edukasi psikologi yang benar, saya baru sadar kalau itu salah. Gangguan mental tidak se-sederhana itu dan kita tidak boleh sembarangan mendiagnosis orang lain,” ujar Lestari melalui whatsapp interaktif pro 2 pada program SPADA Senin, 15 Juni 2026.
Hal senada juga diungkapkan oleh Astri, pendengar asal Pandan, yang menilai edukasi mengenai gangguan kepribadian ini penting agar masyarakat lebih bijak dalam bersosialisasi, baik secara digital maupun langsung.
“Dengan memahami ciri-ciri yang sebenarnya dari NPD, kita jadi lebih tahu cara membatasi diri dan melindungi kesehatan mental kita sendiri jika harus berhadapan dengan lingkungan kerja atau pertemanan yang toksik, tanpa harus bersikap menghakimi orang tersebut,” ujar Astri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....