Rabun Jauh Plus, Benarkah Menggunakan Lensa Positif?
- 21 Okt 2025 15:56 WIB
- Sibolga
KBRN, Sibolga: Gangguan penglihatan seperti rabun jauh (miopia) sudah menjadi masalah umum di masyarakat modern, terutama akibat kebiasaan menatap layar dalam waktu lama. Namun, belakangan istilah rabun jauh plus sering menimbulkan kebingungan di kalangan pasien. Banyak yang bertanya-tanya, apakah maksud plus disini menunjukkan penggunaan lensa positif (plus)? Padahal lensa plus identik dengan rabun dekat (hipermetropia).
Dilansir dari alodokter.com, pada saat Kentongan Pro 1, Senin (20/10/2025) dr. Nadia Nurotul Fuadah, Sp.M, dokter spesialis mata, memberikan penjelasan rinci. Menurutnya, istilah rabun jauh plus tidak berarti penderita rabun jauh diberi lensa plus secara keseluruhan, melainkan ada kondisi tambahan atau kombinasi kelainan refraksi pada mata pasien.
“Secara umum, rabun jauh atau miopia dikoreksi menggunakan lensa minus yang berfungsi untuk memfokuskan cahaya ke retina, karena pada rabun jauh, cahaya jatuh di depan retina. Namun, jika dalam hasil pemeriksaan ditemukan nilai plus di salah satu sumbu, misalnya pada pasien dengan astigmatisme (silinder), maka bisa saja ada komponen plus di bagian tertentu dari lensa,” kata dr. Nadia.
Dengan kata lain plus pada hasil pemeriksaan tidak selalu berarti pasien mengalami rabun dekat, tetapi bisa menandakan adanya komponen silindris atau koreksi kombinasi, yang membuat dokter meresepkan lensa dengan nilai ganda sebagian minus dan sebagian plus, tergantung kebutuhan penglihatan pasien.
Lensa plus memang digunakan untuk rabun dekat (hipermetropia), dimana cahaya justru jatuh di belakang retina. Sedangkan pada rabun jauh (miopia), yang memerlukan lensa minus, cahaya jatuh di depan retina. Perbedaan posisi jatuhnya cahaya inilah yang menentukan jenis lensa korektif yang digunakan.
Namun hasil pemeriksaan mata tidak bisa disimpulkan hanya dari angka plus atau minus, sebab bisa saja satu mata memiliki kombinasi miopia dan astigmatisme. Maka istilah seperti rabun jauh plus bisa muncul dari hasil pemeriksaan teknis yang kompleks, bukan dari jenis kelainan tunggal.
“Yang terpenting adalah memahami bahwa lensa minus digunakan untuk memundurkan fokus cahaya, sedangkan lensa plus untuk memajukan fokus cahaya. Jika dokter memberi lensa dengan komponen plus pada penderita miopia, itu bukan berarti pasien menjadi rabun dekat, melainkan karena struktur penglihatan matanya memerlukan koreksi tambahan,” kata dr. Nadia.
Dengan demikian, istilah rabun jauh plus bukanlah bentuk rabun baru, melainkan hasil pemeriksaan refraksi yang menunjukkan adanya kombinasi kelainan mata. Pemeriksaan rutin dan komunikasi dengan dokter mata sangat penting agar pasien memahami resep lensa yang diberikan, serta tidak salah kaprah dalam menafsirkan istilah medis yang digunakan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....