Bagaimana Waktu Pelari Dihitung? Mengenal Teknologi Chip pada Lomba Lari
- 28 Jul 2026 22:56 WIB
- Sibolga
RRI.CO.ID, Sibolga - Pernahkah Anda mengikuti lomba lari atau melihat ribuan pelari mengenakan nomor dada (bib) dengan sebuah chip kecil di bagian belakangnya? Meski ukurannya tipis dan nyaris tidak terlihat, komponen tersebut memegang peran penting dalam menentukan hasil perlombaan secara akurat.
Chip pada bib race merupakan bagian dari sistem Radio Frequency Identification (RFID), yaitu teknologi identifikasi menggunakan gelombang radio. Saat ini, RFID telah menjadi standar dalam berbagai ajang lari, mulai dari fun run 5 kilometer hingga maraton internasional.
Dilansir dari Innovative Timing Systems, sistem RFID terdiri atas tiga komponen utama, yaitu chip atau tag RFID yang menempel pada bib peserta, antena yang dipasang di bawah karpet waktu (timing mat), serta perangkat pembaca (reader) yang terhubung ke komputer pengolah data. Ketika pelari melintasi timing mat, antena memancarkan gelombang radio yang mengaktifkan chip. Selanjutnya, chip mengirimkan kode identitas unik yang langsung direkam oleh reader beserta waktu saat pelari melintas.
Setiap peserta memiliki nomor identitas chip yang berbeda sehingga sistem mampu membedakan ribuan pelari yang melintas hampir bersamaan. Proses pembacaan berlangsung dalam hitungan milidetik tanpa mengharuskan pelari berhenti atau memperlambat langkah.
Teknologi ini juga memungkinkan panitia mencatat waktu di beberapa titik sepanjang lintasan. Selain garis start dan finish, timing mat biasanya ditempatkan pada titik-titik tertentu, seperti kilometer 5, 10, atau 15. Data tersebut digunakan untuk menghitung split time sekaligus memastikan peserta benar-benar melewati seluruh rute lomba.
Berkat sistem RFID, dikenal dua jenis pencatatan waktu dalam lomba lari, yakni gun time dan chip time. Gun time dihitung sejak aba-aba start resmi diberikan hingga pelari mencapai garis finish. Sementara itu, chip time dihitung sejak chip peserta melewati garis start hingga melintasi garis finish. Pada lomba dengan jumlah peserta yang sangat banyak, chip time dianggap lebih merepresentasikan performa sebenarnya karena tidak dipengaruhi lamanya antrean saat start.
Berbeda dengan sistem lama yang menggunakan transponder terpisah di tali sepatu dan harus dikembalikan setelah lomba, sebagian besar penyelenggara kini memakai chip RFID pasif yang sudah tertanam pada bib. Selain lebih praktis, biaya operasional menjadi lebih rendah dan distribusi kepada peserta juga lebih mudah.
Meski terlihat sederhana, peserta tetap disarankan memasang bib sesuai petunjuk panitia. Bib sebaiknya tidak dilipat, diremas, atau ditusuk tepat pada area chip karena dapat mengurangi kemampuan antena RFID dalam berkomunikasi dengan reader. Jika chip gagal terbaca saat melintasi timing mat, waktu peserta berpotensi tidak tercatat secara otomatis.
Di balik sebuah nomor dada yang tampak biasa, terdapat teknologi yang memastikan setiap detik perjuangan pelari tercatat secara presisi. Kehadiran RFID tidak hanya meningkatkan akurasi hasil lomba, tetapi juga membuat penyelenggaraan event lari modern menjadi lebih efisien, transparan, dan adil bagi seluruh peserta.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....