Pentingnya Literasi Laut Untuk Meningkatkan Kepedulian Lingkungan

  • 13 Mei 2025 11:26 WIB
  •  Sibolga

KBRN, Sibolga : Literasi laut tidak hanya soal cinta lingkungan, tetapi juga sebagai jembatan untuk memahami konsep-konsep ilmiah seperti termodinamika dan perubahan suhu dalam konteks yang nyata dan relevan, sehingga perlu dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan nasional. Hal itu disampaikan Andira melalui pesan WhatsApp saat Spada Pro 2 Sibolga, Selasa (13/5/2025).

“Laut adalah ruang belajar paling nyata untuk memahami sains seperti fenomena arus laut, perubahan suhu, dan siklus karbon bisa menjadi pintu masuk bagi siswa untuk memahami termodinamika, energi, dan iklim. Ini sains yang membumi, yang bisa mereka rasakan dan lihat langsung,” ujarnya.

Andira menilai pendekatan pengajaran sains di sekolah yang selama ini terlalu teoritis dan terlepas dari konteks ekologi yang dekat dengan kehidupan siswa. Menurutnya, literasi laut bisa menjadi penghubung antara pelajaran sains dengan kesadaran ekologis yang lebih kuat.

“Ketika anak belajar tentang perubahan suhu permukaan laut dan dampaknya terhadap cuaca, mereka tidak hanya mengerti konsep fisika, tetapi juga memahami bahwa kerusakan lingkungan berdampak langsung pada hidup mereka,” katanya.

Sebagai negara kepulauan yang dua pertiga wilayahnya adalah laut, Indonesia memiliki kekayaan fenomena alam laut yang bisa dijadikan bahan ajar kontekstual, mulai dari pasang surut, gelombang laut, hingga naiknya permukaan air akibat pemanasan global. Fenomena-fenomena ini, menurut Andira, adalah media pembelajaran yang sangat potensial untuk menjelaskan prinsip-prinsip dasar sains secara konkret.

“Dengan menjadikan laut sebagai laboratorium alam, siswa bisa belajar sambil membangun kepedulian. Sains tidak lagi terasa jauh, dan kepedulian lingkungan tumbuh bukan karena kewajiban moral, tapi karena pemahaman ilmiah yang kuat,” tambahnya.

Ia mengatakan bahwa pendekatan seperti ini sejalan dengan tren pendidikan modern yang menekankan pembelajaran kontekstual dan berbasis proyek. Menurutnya, siswa yang diajak mengamati suhu air laut, membandingkan data, dan menganalisis dampaknya terhadap ekosistem akan tumbuh menjadi individu yang berpikir kritis sekaligus peduli lingkungan.

Lebih lanjut Andira mengajak sekolah-sekolah untuk mulai melakukan inisiatif lokal, seperti kolaborasi dengan komunitas pesisir, kunjungan edukatif ke pantai, atau eksperimen sederhana yang mengamati dampak suhu terhadap kehidupan laut. “Kalau kita ingin generasi yang peduli pada krisis iklim, maka sains harus dibumikan. Dan laut adalah guru terbaik untuk itu,” tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....