Verifikasi-Pengundian Ratusan Unit Huntap Tapteng Tahap Pertama
- 27 Apr 2026 17:03 WIB
- Sibolga
RRI.CO.ID, Tapteng - Penyintas banjir bandang dan longsor, di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), akan segera menempati hunian tetap atau Huntap bantuan pemerintah berkolaborasi dengan Yayasan Buddha Tzu Chi.
Untuk tahap pertama sebanyak 118 unit hutap, di Kecamatan Pinangsori, yang bakal dihuni ratusan kepala keluarga korban bencana ekologis itu.
Pemerintah daerah bersama pihak yayasan juga telah melakukan verifikasi berkas calon penghuni sekaligus pengundian nomor unit huntap, di Aula Kantor Dinas Pendidikan Tapteng pada Senin, 27 April 2026.
Bupati Tapteng Masinton Pasaribu, mengatakan jumlah huntap yang akan dibangun untuk daerahnya mencapai 700an unit.
"Jumlah terbesar (unit huntap), nantinya ada di Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka," ungkapnya, usai mengikuti kegiatan verifikasi dan pengundian unit huntap tahap pertama.
Masinton menyatakan pemerintah daerah akan memberi perhatian kepada warga penghuni huntap dengan pendampingan pemulihan ekonomi.
"Nanti, kami (pemda) akan lihat potensi pemberdayaan di masyarakatnya, kalau potensinya ada UMKM, kami akan memikirkan,
sampai kemudian kami siapkan bantuan akses permodalannya agar mereka (warga penghuni huntap) bertumbuh," ujarnya.
Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Wilayah Sumatera Utara Budianto, memperkirakan proyek pembangunan huntap tahap pertama, di Pinangsori, rampung pada bulan Juli mendatang.
"Untuk pematangan lahan (huntap) sudah selesai. Tapi, tergantung perkembangan kondisi cuaca, karena faktor alam sangat mempengaruhi kelancaran proyek," katanya, di Aula Disdik Tapteng.
Firdalena Sihombing (54), salah seorang calon penghuni Huntap Pinangsori, mengaku merasa bersyukur mendapatkan bantuan hunian pengganti rumahnya yang rusak parah diterjang longsor.
Warga Desa Pagaean Honas, Kecamatan Badiri itu, mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada pemerintah dan Yayasan Buddha Tzu Chi.
"Selama ini, saya dana empat orang anak, numpang tinggal di rumah keluarga. Rumah kami hancur, ladang kami juga rusak. Saya, hanya seorang janada," tutur Firdalena, dengan nada suara berat menahan tangis haru.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....