Generasi Digital dan Museum
- 18 Mei 2026 13:13 WIB
- Sibolga
RRI.CO.ID, Sibolga - Arus informasi yang begitu cepat dan bisa di akses dalam satu klik. Membuat masyarakat terutama generasi muda tidak lagi bergantung pada museum untuk mencari data sejarah.
Kondisi ini memicu perlunya peninjauan ulang terhadap fungsi dan relevansi museum di zaman modern. Apakah museum masih menjadi ruang edukasi dan penjaga memori kolektif bangsa, atau justru bergeser fungsi menjadi sekadar latar belakang estetik demi konten media sosial?
Bagi Generasi Z (Gen Z), museum tidak lagi bisa di kelola dengan gaya konvensional yang kaku. Namun, hal ini bukan berarti Gen Z kehilangan minat pada sejarah. Mereka hanya memiliki cara yang berbeda dalam mengonsumsi informasi.
"Kalau cuma mau tahu tahun berapa perang terjadi atau siapa nama tokohnya, jujur tinggal Google aja beres dalam lima detik," ujar Zahra, mahasiswi semester enam di Padang Sidimpuan, saat acara Spada Pro2 RRI Sibolga. Senin, 18 Mei 2026.
Digitalisasi telah merevolusi bagaimana informasi diproduksi, didistribusikan dan dikonsumsi oleh masyarakat. Namun Zahra menambahkan senang berada di museum karena memiliki aura masa lalu.
"Tapi yang kami cari dari museum itu pengalamannya. Kami mau merasakan suasananya, jujur tempat ini punya daya tarik yang magis, aura masa lalu terpancar kuat dari setiap sudut ruang pameran museum. Kalau museum bisa bikin pameran yang interaktif atau pakai teknologi VR (Virtual Reality), itu jauh lebih ngena dibanding cuma baca teks di dinding," tambahnya.
Zahra juga tidak menampik visual yang instagramable menjadi daya tarik awal bagi generasinya untuk berkunjung.
"Enggak salah juga kalau ada yang ke museum buat foto-foto. Itu cara kami untuk menunjukkan ke sirkel pertemanan kami kalau “Eh, aku lagi belajar sejarah nih, dan ini keren kan!”. Tapi harapan selanjutnya, setelah foto-foto, mereka juga pulang bawa pengetahuan baru, bukan cuma bawa feeds bagus," kata Zahra sambil tertawa, menutup obrolan.
Menakar ulang fungsi museum bukan berarti menghilangkan nilai sakral dari sejarah itu sendiri. Justru, ini menjadi momen baik bagi pengelola museum untuk lebih adaptif.
Museum di tengah gempuran informasi harus memposisikan diri sebagai penguji kebenaran tempat masyarakat bisa memvalidasi informasi yang mereka dapatkan di internet, sekaligus ruang publik yang inklusif dan menyenangkan untuk semua generasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....