Mengembalikan "Kemanusiaan" di tengah Kepalsuan Digital
- 07 Mei 2026 14:34 WIB
- Sibolga
RRI.CO.ID, Sibolga – Media sosial telah mengubah cara kita mendefinisikan kebahagiaan, dari sesuatu yang dirasakan secara mendalam menjadi sesuatu yang harus divalidasi lewat angka dan komentar.
Jempol lebih cepat bertindak daripada hati, kita sering terjebak dalam perlombaan visual.
Secara humanis, ada harga yang harus dibayar dari setiap unggahan yang tampak tanpa cela. Kita perlahan kehilangan hak untuk menjadi "manusia yang berantakan."
Secara kodrati, manusia makhluk yang dinamis, kita merasa sedih, gagal, lelah, dan tidak berdaya. Namun, jagat digital menuntut kita untuk selalu tampil sebagai versi terbaik yang statis.
Kita mengedit jerawat, menghapus latar belakang yang kumuh, dan menyaring emosi negatif seolah-olah hal-hal tersebut adalah aib.
"Aku merasa kita kehilangan momen 'sekarang'. Waktu makan malam sama keluarga, fokusku bukan ke rasa makanannya atau cerita Ibuku, tapi gimana cara memotret piring itu supaya kelihatan mewah. Rasanya seperti robot yang sedang mendokumentasikan hidup, bukan manusia yang sedang menjalaninya. Serasa ada lubang kosong di hati setiap kali aku mematikan layar HP." Ungkap Maya, freelancer designer dalam cara Jaga Malam Pro2 RRI Sibolga. Rabu, 6 Mei 2026.
Sementara Evita Sinaga, S.Psi. lulusan Psikologi mengatakan, dunia digital seringkali terasa seperti panggung sandiwara tanpa jeda. Keresahan mulai dirasakan, bagaimana teknologi perlahan mengikis sisi kemanusiaan dalam keseharian.
"Saya melihat kita sedang mengalami krisis identitas kolektif. Media sosial yang seharusnya menjadi alat koneksi, justru sering menjadi tembok pemisah antara diri kita yang asli dengan citra yang ingin kita proyeksikan ( ideal self vs actual self)," dikatakannya melalui pesan WA.
Evita juga melanjutkan, "Kita sedang mengalami krisis empati. Kita melihat teman posting liburan dan kita merasa iri, padahal mungkin dia sedang melarikan diri dari masalah mental yang berat. Di media sosial, kita melihat manusia sebagai objek estetik, bukan subjek yang punya luka. Kita lupa kalau di balik akun itu ada jiwa yang mungkin sedang kesepian, sama seperti kita," lanjutnya.
Esensi dari kemanusiaan adalah penerimaan atas ketidaksempurnaan.
Ketika kita hanya memuja story yang indah, kita sedang menciptakan standar hidup yang tidak manusiawi bagi diri sendiri dan orang lain.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....