Yuk, Kenali Pagophagia!
- 27 Mar 2026 10:18 WIB
- Sibolga
RRI.CO.ID, Sibolga – Kebiasaan mengunyah es batu yang sering dianggap sebagai cara menyegarkan diri di tengah cuaca terik ternyata dapat menjadi indikasi gangguan kesehatan serius. Fenomena yang secara medis dikenal sebagai pagophagia ini kini mulai mendapat perhatian karena keterkaitannya dengan defisiensi nutrisi dan kesehatan gigi jangka panjang.
Dokter gigi muda, Delima Serena, menjelaskan bahwa pagophagia termasuk dalam kategori gangguan makan pica, yaitu keinginan mengonsumsi benda yang tidak memiliki nilai gizi. Menurutnya, keinginan kuat untuk terus-menerus mengunyah benda keras seperti es batu sering kali merupakan kompensasi tubuh terhadap kondisi tertentu.
"Banyak orang mengira ini cuma hobi iseng, padahal secara klinis, pagophagia sering kali menjadi alarm bahwa tubuh sedang mengalami anemia defisiensi besi. Penderita anemia cenderung mengunyah es karena sensasi dinginnya dipercaya bisa meningkatkan kewaspadaan dan aliran darah ke otak," ujar Delima melalui sambungan telepon pada program acara SPADA di Pro 2 RRI Sibolga pada Senin, 23 Maret 2026 .
Delima juga memaparkan bahwa kebiasaan ini membawa dampak buruk yang nyata bagi kesehatan rongga mulut. Tekstur es yang keras dapat mengikis lapisan email gigi, memicu retakan mikro, hingga menyebabkan gigi menjadi sangat sensitif terhadap suhu makanan yang ekstrem.
"Email gigi itu lapisan terkeras di tubuh, tapi kalau setiap hari 'dihantam' benda keras dan dingin seperti es, pelindungnya pasti kalah. Akibatnya, muncul rasa ngilu yang tajam, risiko infeksi gusi, hingga gangguan pada sendi rahang," tambahnya.
Selain masalah dental, Delima juga mengingatkan risiko kesehatan sistemik jika pagophagia dibarengi dengan gejala fisik lain. Ia mengatakan bahwa penderita yang sering merasa lemas, pucat, dan sesak napas saat beraktivitas harus segera memeriksakan kadar zat besi dalam darahnya ke fasilitas kesehatan terdekat.
"Penanganannya tidak bisa cuma disuruh berhenti makan es. Kita harus cari akar masalahnya. Kalau memang karena kekurangan zat besi, maka perbaikan pola makan atau suplemen medis adalah kuncinya. Namun, jika ini berkaitan dengan faktor psikologis, maka pendekatan terapinya pun berbeda," ujarnya.
Ia juga mengimbau para pendengar untuk lebih peka terhadap kebiasaan sehari-hari yang dirasa mulai berlebihan. Menurutnya, edukasi sejak dini mengenai kesehatan preventif sangat penting agar gangguan kecil tidak berkembang menjadi masalah kronis di masa depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....