Patiur Baba Ni Mual: Tradisi Penghormatan kepada Tulang
- 20 Jan 2025 11:19 WIB
- Sibolga
KBRN, Sibolga : Adat Patiur Baba Ni Mual merupakan salah satu tradisi luhur masyarakat Batak yang menegaskan pentingnya penghormatan terhadap tulang (paman dari pihak ibu). Sebelum melangsungkan pernikahan, seorang bere (keponakan) laki-laki wajib meminta izin dan restu dari tulang-nya sebelum menikah sebagai bentuk penghormatan dalam sistem kekerabatan Batak.
Menurut Muliana Sitompul, seorang pemerhati budaya di Sibolga pada siaran Pesona Budaya Berjaringan, Sabtu (18/1/2025) mengatakan, tradisi ini memiliki makna yang sangat mendalam. “Dalam adat Batak, tulang adalah tokoh yang dihormati karena ia memiliki peran penting dalam memberikan restu dan nasihat kepada bere (keponakan), makanya tulang disebut dengan istilah Tulang Sambolah Langit yang artinya berkat dari Tulang setengah dari langit. Makanya meminta izin kepada tulang sebelum menikah diaggap perlu dan merupakan cerminan sikap rendah hati dan penghargaan terhadap struktur kekerabatan.”
Begitu pula menurut pendapat Paulus Hadi Sianturi, sebagai pelaku budaya yeng sudah pernah menjalani adat Patiur Baba Ini Mual dari Tapanuli Tengah, menambahkan bahwa dalam prosesi ini, seorang bere akan membawa simbol persembahan seperti sirih, makanan tradisional, dan kain ulos. “Simbol-simbol ini adalah tanda penghormatan kepada tulang sekaligus wujud ucapan terima kasih atas dukungannya selama ini. Selain memberikan restu, tulang juga akan menyampaikan petuah tentang kehidupan berumah tangga yang akan dihadapi oleh pasangan yang akan menikah.”
Paulus menjelaskan bahwa tradisi ini tidak hanya menandakan penghormatan kepada tulang, tetapi juga menjadi pengikat emosional antara keluarga besar. “Melalui prosesi ini, hubungan kekerabatan antara keluarga ibu dan ayah dapat semakin erat kedepannya. Hal ini mencerminkan nilai kebersamaan dan gotong royong yang menjadi ciri khas adat Batak.”
Namun, baik Muliana maupun Paulus mengungkapkan keprihatinan bahwa praktik adat ini mulai memudar di kalangan generasi muda. “Seiring dengan modernisasi, banyak generasi muda yang menganggap adat ini tidak lagi relevan. Padahal, tradisi ini adalah identitas budaya yang harus dijaga,” kata Muliana.
Untuk itu, Paulus mengusulkan adanya revitalisasi adat melalui kegiatan budaya dan edukasi. “Pemerintah daerah, tokoh adat, dan masyarakat harus bekerja sama memperkenalkan kembali adat ini kepada generasi muda. Dengan cara ini, tradisi Patiur Baba Ni Mual dapat terus diwariskan kepada anak cucu.”
Adat Patiur Baba Ni Mual bukan sekadar ritual, melainkan cerminan penghormatan, kebersamaan, dan kearifan lokal. Dengan menjaga adat ini, masyarakat Batak tidak hanya merawat warisan budaya, tetapi juga mengajarkan pentingnya menghormati keluarga sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....