Permintaan Kue Sapit Meningkat Jelang Hari Lebaran

  • 17 Mar 2026 18:08 WIB
  •  Sibolga

RRI.CO.ID, Sibolga – Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, penganan tradisional kue sapit kembali menjadi incaran warga di wilayah Sibolga dan sekitarnya. Kue kering dengan tekstur renyah dan aroma khas kayu manis ini kerap dianggap sebagai hidangan wajib yang tersaji di meja tamu saat perayaan Lebaran.

Peningkatan permintaan ini dirasakan langsung oleh salah satu perajin kue sapit lokal, Nurainun. Saat dihubungi dalam program siaran Santai Siang Pro 2 RRI Sibolga pada Rabu 11 Maret 2026, ia menyebutkan bahwa pesanan mulai meningkat sejak minggu pertama Ramadan.

"Tahun ini pesanan naik hampir dua kali lipat dibanding hari biasa. Banyak pelanggan setia yang sudah memesan jauh-jauh hari karena mereka mencari rasa autentik kue sapit yang diproses secara tradisional," ujar Nurainun melalui sambungan telepon.

Selain rasanya yang gurih, Nurainun juga menjelaskan bahwa proses pembuatan kue sapit membutuhkan ketelatenan tinggi. Menurutnya, rahasia kelezatan kue tersebut terletak pada komposisi bahan dan teknik pemanggangan yang tepat.

"Bahan dasarnya cukup sederhana, yaitu tepung beras, santan kental, telur, gula pasir, serta sedikit bubuk kayu manis untuk memberikan aroma khas. Semua bahan diaduk hingga menghasilkan adonan yang encer namun pas, karena jika terlalu kental hasilnya tidak akan renyah," jelasnya.

Proses pemanggangan dilakukan menggunakan cetakan besi penjepit bermotif atau yang dikenal sebagai sapit. Cetakan dipanaskan di atas bara api atau kompor. Setelah adonan dituangkan dan dipanggang hingga setengah matang, kue harus segera dilipat atau digulung selagi masih panas sebelum teksturnya mengeras.

"Teknik melipat ini yang paling krusial. Jika terlambat sedikit saja, kue bisa pecah karena cepat sekali mengeras. Itulah mengapa disebut kue sapit, karena prosesnya dijepit dan dibentuk saat masih panas," tambahnya.

Meski saat ini banyak bermunculan kue kering modern, kue sapit tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Selain rasanya yang khas, harganya relatif terjangkau serta daya tahannya yang lama tanpa bahan pengawet menjadikan camilan ini solusi praktis namun tetap berkesan tradisional untuk menyambut tamu di hari raya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....