Dinilai Membebani Masyarakat ditengah Ketidakpastian Ekonomi
- 15 Jun 2026 17:08 WIB
- Sibolga
RRI.CO.ID, Sibolga - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax dari 12.300 rupiah menjadi 16.250 rupiah per liter yang sudah mulai berlaku pada sepekan terakhir, menuai berbagai tanggapan dari masyarakat. Lonjakan harga sebesar 3.950 rupiah per liter atau sekitar 32 persen tersebut dinilai memberikan dampak signifikan terhadap pengeluaran rumah tangga dan biaya aktivitas sehari-hari.
Ronny Ferdian, Salah seorang masyarakat kota Sibolga yang juga Pegawai Swasta, pada Halo RRI Pro 1, Senin, 15 Juni 2026 mengaku dan menjelaskan kenaikan harga Pertamax cukup mengejutkan dan berpotensi menambah beban ekonomi masyarakat, khususnya kalangan menengah yang selama ini mengandalkan BBM nonsubsidi tersebut.
“Kenaikan ini tentu sangat terasa. Bagi masyarakat yang menggunakan kendaraan untuk aktivitas kerja setiap hari, pengeluaran untuk transportasi akan meningkat cukup besar. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri ditengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil,” katanya.
Menurut Ronny, dampak kenaikan harga BBM tidak hanya dirasakan oleh pengguna kendaraan pribadi, tetapi juga dapat berpengaruh terhadap biaya distribusi barang dan jasa yang pada akhirnya berdampak pada harga kebutuhan pokok.
“Ketika biaya transportasi meningkat, biasanya akan ada efek berantai terhadap berbagai sektor. Masyarakat tentu berharap ada langkah-langkah yang dapat menjaga daya beli agar tidak semakin tertekan.”
Sementara itu, Hendra Sahputra, Pemerhati Ekonomi kota Sibolga, menilai kenaikan harga Pertamax berpotensi memicu tekanan inflasi, terutama jika diikuti dengan kenaikan biaya logistik dan transportasi di berbagai daerah. “Kenaikan harga BBM merupakan salah satu faktor yang memiliki pengaruh luas terhadap perekonomian. Dengan lonjakan harga mencapai sekitar 32 persen, masyarakat akan melakukan penyesuaian terhadap pola konsumsi dan pengeluaran mereka,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa kelompok masyarakat kelas menengah menjadi salah satu pihak yang paling merasakan dampak kebijakan tersebut karena sebagian besar pengguna Pertamax berasal dari segmen tersebut.
“Ketika biaya transportasi meningkat, masyarakat cenderung mengurangi pengeluaran pada sektor lain. Jika kondisi ini berlangsung dalam jangka panjang, maka dapat memengaruhi aktivitas ekonomi secara keseluruhan karena daya beli masyarakat menurun,” kata Hendra.
Hendra juga mengingatkan pentingnya kebijakan yang mampu menjaga stabilitas ekonomi dan memberikan perlindungan terhadap kelompok masyarakat yang terdampak oleh kenaikan harga energi.
“Masyarakat tentu memahami bahwa penyesuaian harga dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Namun, yang juga perlu diperhatikan adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara kebutuhan fiskal dan kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.” sambungnya.
Kenaikan harga Pertamax ini menjadi perhatian luas karena terjadi ditengah berbagai tantangan ekonomi yang masih dihadapi masyarakat. Sejumlah pihak berharap adanya langkah strategis dari pemerintah dan pemangku kepentingan untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan, sehingga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat tetap terjaga.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....