Jalan Sipiongot Dibangun, Warga Terkenang Masa Sulit Terisolasi

  • 30 Jun 2026 13:03 WIB
  •  Sibolga
RRI.CO.ID, Paluta - Pembangunan dan perbaikan 13 ruas jalan di kawasan Sipiongot Kabupaten Padanglawas Utara (Paluta) dan sekitarnya diapresiasi oleh masyarakat. Bagi masyarakat Sipiongot, pembangunan jalan bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan simbol berakhirnya puluhan tahun masyarakat merasa dalam situasi keterisolasian.

Sulitnya akses ekonomi, dan perjuangan masyarakat selama ini harus berjalan kaki berjam-jam menembus lumpur demi membawa hasil panen ke pasar. Situasi perubahan itulah membuat masyarakat Sipiongot memberi upah-upah kepada Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Bobby Nasution di rumah waket DPRD Sumut Ihwan Ritonga Minggu, 28 Juni 2026.

Dalam suasana kegiatan yang dirangkai dengan pengajian Ikatan Keluarga Dolok Sipiongot dan sekitarnya (IKDS) itu, banyak warga mengenang bagaimana daerah mereka selama puluhan tahun identik dengan keterbelakangan, akibat minimnya pembangunan infrastruktur.

Wakil ketua DPRD Sumut, Ihwan Ritonga mengaku pembangunan dilakukan saat ini menjadi titik balik bagi Sipiongot, 81 tahun belum merasakan pembangunan jalan secara menyeluruh. "Selama 12 tahun saya di DPRD terus mengawal persoalan ini, dan dulu dibangun sedikit demi sedikit, 2 kilometer, 5 kilometer, tapi tak pernah tuntas. Kini, jalan yang menghubungkan daerah yang terisolir langsung ditangani serius," beber Ihwan.

Menurut Ihwan, Pemprov Sumut telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp283 miliar untuk pembangunan dan perbaikan 13 ruas jalan di kawasan Sipiongot dan sekitarnya. Dampaknya mulai dirasakan masyarakat, karena selama ini akses sulit sekarang perlahan terbuka, mobilitas warga menjadi lebih mudah, dan juga harapan kebangkitan ekonomi semakin besar.

"Dulu daerah ini sering disebut tertinggal, dan kini masyarakat merasa diperhatikan dan memiliki harapan baru untuk masa depan. Kisah disampaikan masyarakat dalam dialog berlangsung emosional, kepala Desa Janji Manahan mengaku masih mengingat bagaimana sulitnya kehidupan warga ketika dirinya masih kecil," tambah Ihwan.

"Saya lahir tahun 1980. Saat kelas enam SD kalau ke Pasar Sipiongot harus berjalan kaki sambil memikul hasil panen. Jalannya berlumpur dan sangat berat dilalui," ungkapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....