Taratintin, Permainan Tradisional Sarat Nilai Kebersamaan

  • 17 Jul 2026 12:21 WIB
  •  Sibolga

RRI.CO.ID, Sibolga - Salah satu permainan tradisional yang menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat pesisir kota Sibolga yaitu Taratintin. Permainan yang dimainkan secara berkelompok ini dulunya menjadi hiburan favorit anak-anak saat sore hari di halaman rumah, lapangan, maupun ruang terbuka lainnya. Ditengah maraknya permainan digital, Taratintin kini mulai jarang dimainkan sehingga perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda.

Permainan Taratintin diawali dengan menentukan satu orang sebagai terhukum atau penjaga. Penjaga kemudian berdiri menghadap pohon atau dinding rumah sambil menutup mata dan menyandarkan kepala. Selanjutnya, ia menghitung dengan suara lantang dari angka 10 hingga 100 menggunakan kelipatan sepuluh, yaitu 10, 20, 30, 40, 50, 60, 70, 80, 90, hingga 100.

Selama proses menghitung berlangsung, para peserta lainnya berlarian mencari tempat persembunyian. Setelah hitungan selesai, penjaga membuka mata dan mulai mencari seluruh pemain yang bersembunyi. Pemain yang berhasil ditemukan sesuai aturan permainan akan bergantian menjadi penjaga pada putaran berikutnya.

Amar Khan Sikumbang, Anak Muda Budaya kota Sibolga, saat dihubungi via selular Musik Tradisional dan Budaya, Kamis, 16 Juli 2026 mengatakan Taratintin bukan sekadar permainan untuk mengisi waktu luang, tetapi juga menjadi media pembelajaran yang membentuk karakter anak sejak usia dini. Menurutnya, permainan tradisional ini telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir Sibolga.

Amar menjelaskan, melalui Taratintin, anak-anak belajar menjunjung tinggi sportivitas, bekerja sama dengan teman, melatih keberanian, ketangkasan, serta kemampuan menyusun strategi. Nilai-nilai tersebut dinilai penting dalam membentuk sikap sosial dan rasa tanggung jawab ditengah kehidupan bermasyarakat.

Ia menambahkan, pelestarian permainan tradisional perlu mendapat dukungan dari keluarga, sekolah, maupun pemerintah daerah. Pengenalan kembali permainan seperti Taratintin dapat dilakukan melalui kegiatan budaya, perlombaan, maupun aktivitas di lingkungan pendidikan agar anak-anak lebih mengenal warisan budaya daerahnya sendiri.

“Dengan terus melestarikan Taratintin, diharapkan generasi muda tidak hanya mengenal permainan modern, tetapi juga memahami nilai budaya yang diwariskan para leluhur. Keberadaan permainan tradisional ini menjadi salah satu identitas budaya masyarakat pesisir Sibolga yang patut dijaga agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang,” tutup Amar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....