Social Battery dan Pentingnya Punya Waktu Sendiri

  • 20 Jun 2026 12:34 WIB
  •  Sibolga

RRI.CO.ID, Sibolga - Social battery atau baterai sosial menggambarkan kapasitas energi mental untuk berinteraksi dengan orang lain. Istilah ini kini semakin dikenal, terutama di kalangan anak muda.

Konsep tersebut bukan merupakan gangguan kesehatan atau diagnosis medis tertentu. Social battery hanya menjadi metafora untuk menjelaskan kondisi energi emosional seseorang.

Layaknya baterai ponsel, energi sosial dapat berkurang setelah digunakan terus-menerus. Aktivitas seperti rapat, mengobrol, membalas pesan, dan berada di keramaian dapat menguras energi.

Dalam psikologi populer, introvert dan ekstrovert memiliki cara berbeda mengisi energi. Introver cenderung memulihkan diri dengan menyendiri, sedangkan ekstrovert memperoleh energi dari interaksi sosial.

Ketika social battery mulai menurun, seseorang dapat merasakan kelelahan mental maupun fisik. Bahkan aktivitas ringan terasa berat meskipun tidak membutuhkan banyak tenaga.

Tanda lainnya adalah sulit fokus saat mendengarkan lawan bicara atau mengikuti percakapan. Kondisi ini juga membuat emosi menjadi lebih sensitif dan mudah tersinggung.

Keinginan untuk menyendiri serta menghindari keramaian juga menjadi sinyal penting. Jika diabaikan, kondisi tersebut berpotensi memicu stres berlebihan atau burnout.

Untuk mengisi ulang energi sosial, seseorang dapat meluangkan waktu bagi dirinya sendiri. Aktivitas seperti membaca buku, mendengarkan musik, atau menekuni hobi sangat membantu.

Selain itu, membatasi penggunaan media sosial juga dapat menjaga kesehatan mental. Kebiasaan menggulir layar tanpa tujuan sering kali menambah kelelahan pikiran.

Psikolog juga menyarankan agar seseorang belajar menolak ajakan secara sopan. Menjaga batasan diri merupakan langkah penting dalam merawat kesejahteraan emosional.

Menanggapi materi siaran tersebut, pendengar pada acara Jaga Malam Pro 2 RRI Sibolga, Jumat, 19 Juni 2026, Via, mengaku pernah mengalami kelelahan sosial setelah menjalani aktivitas yang padat. Ia mengatakan, "Saya sering merasa lelah setelah seharian berinteraksi dengan banyak orang, sehingga malam hari menjadi waktu yang saya butuhkan untuk memulihkan energi."

Via menambahkan bahwa memahami konsep social battery membuatnya lebih mengerti pentingnya menjaga kesehatan mental. Menurutnya, seseorang tidak perlu merasa bersalah ketika membutuhkan waktu sendiri untuk beristirahat dan mengisi kembali energi emosionalnya.

Dengan mengenali tanda-tanda baterai sosial yang menurun, masyarakat dapat mengelola energi lebih baik. Langkah sederhana tersebut membantu menjaga kesehatan mental sekaligus produktivitas sehari-hari.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....