Dalihan Natolu Identitas Masyarakat Batak
- 25 Feb 2026 07:06 WIB
- Sibolga
RRI.CO.ID, Sibolga – Dalihan Na Tolu menjadi kerangka hubungan tripartit dalam masyarakat Batak yang mencakup hubungan kekerabatan darah dan perkawinan yang saling mempertalikan satu kelompok. Konsep ini menempatkan setiap individu dalam posisi dan peran sosial yang jelas di tengah komunitasnya.
Dalam adat Batak, Dalihan Na Tolu ditentukan oleh tiga kedudukan fungsional sebagai suatu konstruksi sosial yang saling melengkapi. Ketiga unsur tersebut menjadi dasar dalam mengatur tatanan kehidupan bermasyarakat secara seimbang dan harmonis.
Secara etimologis, Dalihan Na Tolu berarti “tungku yang tiga”, yakni tiga pijakan sejajar yang menopang kehidupan bersama. Ketiga pijakan ini bukan sekadar simbol fisik, melainkan kerangka norma, perilaku, dan hubungan sosial yang dijalankan masyarakat Batak.
Hal tersebut disampaikan Sahat Simatupang saat dimintai pendapatnya dalam program Teras Pro2 RRI Sibolga, Senin, 23 Februari 2026.. “Dalihan Na Tolu adalah fondasi utama dalam membangun relasi sosial masyarakat Batak, baik dalam keluarga maupun komunitas,” ujarnya.
Ia menjelaskan ketiga posisi tersebut dirumuskan dalam ungkapan filosofi Batak yang diwariskan turun-temurun. “Somba marhula-hula berarti menghormati keluarga istri, Manat mardongan tubu bermakna menjaga hubungan dengan sesama semarga, dan Elek marboru adalah sikap kasih sayang kepada boru atau anak boru,” kata Sahat.
Menurutnya, filosofi Dalihan Na Tolu tidak hanya mengatur hubungan keluarga berdasarkan garis darah dan perkawinan. “Nilai ini juga menjadi landasan sosial yang memengaruhi pola interaksi dan etika antarindividu dalam masyarakat Batak secara luas,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....