Dari Coba Coba Menjadi Ketergantungan Jerat Narkoba

  • 15 Sep 2026 16:13 WIB
  •  Sibolga

RRI.CO.ID, Sibolga – Banyak di kalangan generasi muda saat ini terjebak dalam lingkaran hitam ketergantungan narkoba. Ancaman penyalahgunaan narkoba ini sering kali dimulai dari hal sepele, yakni rasa penasaran. Berawal dari coba-coba, akhirnya sulit diputus.

Penyalahgunaan narkotika kini telah masuk dalam tahap siaga merah, terutama karena peredarannya yang semakin masif dan menyasar berbagai kalangan, termasuk anak-anak dan remaja.

Hal ini yang harus diwaspadai sebagai bentuk “alarm peringatan dini” dari berbagai pihak terhadap bahaya narkoba, mengingat jerat narkoba tidak hanya merusak masa depan fisik dan mental korban, tetapi juga memutus rantai produktivitas generasi bangsa.

Menanggapi bahaya laten tersebut organisasi kepemudaan gereja, Jon Malau, Ketua Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Katedral Santa Maria Sibolga, memberikan pandangan serta pesan mendalam mengenai pentingnya kewaspadaan dan benteng iman bagi kaum muda.

“Banyak anak muda terjebak bukan karena mereka jahat, tetapi sering kali karena salah memilih jalan saat mencari identitas diri. Berawal dari coba-coba dengan dalih ‘sekadar ikut teman’, tanpa mereka sadari pintu itu mengarah pada kehancuran,” ujar Jon Malau saat ditemui di kompleks Katedral Sibolga, ditengah kesibukan pelaksanaan bazar OMK di halaman Pastoran Gereja Katedral. Minggu, 13 September 2026.

Ia juga menambahkan OMK Paroki Katedral Sibolga terus berupaya menciptakan ruang-ruang positif bagi para anggotanya agar terhindar dari pengaruh negatif tersebut.

“Kami di OMK terus berupaya merangkul teman-teman muda melalui kegiatan positif, baik rohani, seni, maupun olahraga. Lingkungan yang suportif dan aktif dalam kegiatan positif adalah benteng terbaik agar anak-anak muda kita tidak mencari pelarian yang salah pada narkoba. Mari kita ingat bahwa masa depan kita terlalu berharga untuk dipertaruhkan pada barang yang hanya memberikan kenikmatan sesaat,” tegasnya.

Menghadapi tantangan ini, keterlibatan aktif dari berbagai pihak, mulai dari keluarga, tokoh agama, lembaga pendidik, hingga aparat penegak hukum sangat dibutuhkan. Keluarga harus menjadi ruang aman pertama bagi anak untuk berkomunikasi tanpa takut menghakimi, sementara komunitas keagamaan diharapkan terus konsisten memberikan pendampingan rohani, untuk senantiasa mengawasi pergaulan anak-anak muda, serta merangkul mereka yang rentan agar kembali ke jalan yang produktif dan sehat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....