Eksistensi Mangure Lawik, Tradisi Pesisir Sibolga-Tapteng
- 05 Sep 2026 13:19 WIB
- Sibolga
RRI.CO.ID, Sibolga - Tradisi adat pesisir Mangure Lawik atau melarung doa dan rasa syukur ke laut, hingga kini tetap terjaga kelestariannya di kawasan Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.
Tradisi ini sebagai simbol penghormatan masyarakat pesisir terhadap alam serta memohon keselamatan dan keberkahan rezeki bagi para nelayan saat melaut.
Prosesi ini diawali doa bersama yang dilanjutkan dengan melarung sesajen atau persembahan simbolis ke tengah laut menggunakan perahu hias.
Selain sarat nilai spiritual, Mangure Lawik juga menjadi daya pikat pariwisata daerah yang mendatangkan sumber pendapatan baru bagi masyarakat setempat, sekaligus memperkenalkan keindahan alam dan keunikan seni budaya etnis pesisir ke ranah yang lebih luas.
Zurlang Simanullang, warga Tapanuli Tengah, menyampaikan tradisi ini bukan sekadar ritual biasa, melainkan warisan turun-temurun yang memiliki makna mendalam bagi kehidupan warga pesisir.
"Tradisi Mangure Lawik ini sudah ada sejak zaman nenek moyang kita. Bagi kami warga Tapanuli Tengah dan Sibolga, ini bentuk rasa syukur atas limpahan rezeki laut yang selama ini menghidupi keluarga kami. Harapan kami, melalui doa dan tradisi ini, para nelayan selalu diberi keselamatan saat melaut dan hasil tangkapan terus melimpah," ujar Zurlang, saat acara Teras Pro2 RRI Sibolga. Jum'at, 4 September 2026.
Pemerintah daerah bersama tokoh adat setempat berkomitmen menjaga dan mendukung penyelenggaraan Mangure Lawik setiap tahunnya agar nilai-nilai kebudayaan lokal Sibolga dan Tapanuli Tengah tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi muda.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....