Parentification, Beban Dewasa pada Anak Muda
- 26 Mar 2026 20:54 WIB
- Sibolga
Isu parentification mulai ramai dibahas di kalangan anak muda. Kondisi ini berkaitan dengan peran anak yang berubah menjadi seperti orang tua.
Istilah parentification diperkenalkan oleh Ivan Boszormenyi-Nagy pada tahun 1960-an. Konsep ini muncul dalam kajian terapi keluarga modern.
Menurut Journal of Child and Family Studies, parentification melibatkan tanggung jawab orang dewasa pada anak. Tanggung jawab tersebut bisa bersifat emosional maupun praktikal dalam keluarga.
Dosen Jurusan Psikologi, Wahyuni Retnowati, menjelaskan pada Acara Sore Ceria Pro 2 RRI Sibolga, Kamis, 26 Maret 2026, kondisi ini sering tidak disadari. Ia mengatakan anak kerap menjadi tempat curhat orang tua.
“Anak dipaksa memahami masalah dewasa sebelum waktunya,” ujar Wahyuni Retnowati. Ia menilai hal ini dapat memengaruhi perkembangan mental remaja.
Secara tidak langsung, Wahyuni menyebut anak kehilangan fase penting masa kecil. Mereka menjadi lebih dewasa, namun menyimpan tekanan emosional.
Dampak lain adalah meningkatnya risiko kecemasan dan depresi pada anak muda. Beban tanggung jawab membuat mereka mudah merasa gagal.
“Anak bisa merasa bersalah ketika tidak mampu memenuhi ekspektasi orang tua,” tambahnya. Kondisi ini sering berlanjut hingga dewasa.
Selain itu, anak yang mengalami parentification cenderung sulit menetapkan batasan. Mereka terbiasa mengutamakan orang lain dibanding diri sendiri.
| Baca juga: Narkotika Jenis Baru dalam Rokok Elektrik |
Hal ini membuat mereka rentan dimanfaatkan dalam hubungan sosial. Mereka juga sering kesulitan mengatakan tidak kepada orang lain.
Wahyuni Retnowati menyarankan orang tua memahami batasan peran anak sejak dini. Anak seharusnya fokus pada belajar dan berkembang sesuai usia.
Dengan pola asuh yang tepat, risiko parentification dapat diminimalisir. Anak pun dapat tumbuh dengan kondisi mental yang lebih sehat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....