Diskon Besar Picu Belanja Impulsif

  • 12 Feb 2026 09:49 WIB
  •  Sibolga

RRI.CO.ID, Sibolga - Program diskon besar-besaran yang kerap digelar pusat perbelanjaan dan platform e-commerce ternyata tidak selalu berujung pada penghematan. Alih-alih menekan pengeluaran, banyak konsumen justru terjebak dalam perilaku impulsive buying atau belanja impulsif yang membuat total belanja melebihi anggaran.

Fenomena ini semakin marak seiring gencarnya promosi potongan harga, flash sale, hingga gratis ongkir yang ditawarkan secara masif, terutama pada momen tanggal kembar dan hari besar nasional. Konsumen sering merasa perlu membeli lebih banyak barang demi memanfaatkan diskon, sehingga volume barang yang dibeli meningkat drastis.

Pemerhati Ekonomi Kota Sibolga, Hendra Sahputra, pada acara Inflasi dan Investasi Pro 1, Rabu, 11 Februari 2026, menilai diskon sering menciptakan ilusi hemat ditengah masyarakat. “Secara psikologis, konsumen merasa diuntungkan karena mendapatkan potongan harga. Padahal, yang terjadi justru pembelian barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Akhirnya, total pengeluaran malah lebih besar dari rencana awal.”

Menurutnya, dorongan emosional menjadi faktor utama dalam perilaku belanja impulsif. Rasa takut ketinggalan atau Fear of Missing Out (FOMO) membuat konsumen terburu-buru mengambil keputusan tanpa pertimbangan matang. “Strategi pemasaran seperti countdown timer, stok terbatas, dan notifikasi ‘produk hampir habis’ sengaja dirancang untuk menekan sisi emosional konsumen. Ini memicu keputusan spontan yang seringkali tidak rasional,” kata Hendra.

Selain itu, kemudahan akses e-commerce melalui ponsel pintar semakin mempercepat proses transaksi. Hanya dengan beberapa kali klik, barang langsung terbeli tanpa perlu keluar rumah. “Dulu orang harus pergi ke toko dan berpikir dua kali sebelum membeli. Sekarang semuanya instan. Ini yang membuat kontrol belanja semakin lemah,” jelas Hendra.

Lilis Damanik, seorang ibu rumah tangga di Sibolga yang mengaku gemar berburu diskon, mengakui dirinya kerap tergoda promo besar. “Awalnya cuma mau beli kebutuhan dapur, tapi karena lihat ada diskon 50 persen untuk barang lain, jadi ikut beli juga. Rasanya sayang kalau dilewatkan.”

Namun, ia menyadari kebiasaan ini membuat pengeluaran bulanan sering membengkak. “Kalau dihitung-hitung, kadang total belanja malah lebih besar dari biasanya. Memang dapat harga murah, tapi barangnya jadi lebih banyak dan tidak semuanya benar-benar perlu,” kata Lilis.

Hendra menyarankan masyarakat untuk membuat daftar belanja dan menetapkan anggaran sebelum memanfaatkan promo diskon. Ia juga mengingatkan pentingnya membedakan antara kebutuhan dan keinginan. “Diskon bukan berarti wajib beli. Konsumen harus disiplin dan sadar bahwa tujuan utama pengelolaan keuangan adalah kestabilan jangka panjang, bukan sekadar mengejar harga murah.” Dengan meningkatnya literasi keuangan, diharapkan masyarakat dapat lebih bijak dalam memanfaatkan promo, sehingga diskon benar-benar menjadi sarana penghematan, bukan jebakan konsumtif yang merugikan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....