Absen di Asian Games, Estu Santoso Soroti Kuota Pemain Asing dan Nasib Pemain Muda
- 18 Sep 2026 20:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Timnas U-23 Indonesia gagal tampil di Asian Games 2026 setelah tidak lolos ke Piala Asia U-23 2026.
- Pengamat sepak bola, Estu Santoso, menyoroti keterkaitan regulasi pemain asing dengan kesempatan pemain muda memperoleh jam terbang kompetitif sebagai salah satu penyebabnya.
- Estu meminta regulasi pemain asing dikaji ulang untuk mendukung perkembangan pemain muda Indonesia.
RRI.CO.ID, Jakarta – Absennya Timnas U-23 Indonesia di Asian Games 2026 menjadi perhatian pengamat sepak bola, Estu Santoso. Ia menyoroti keterkaitan regulasi pemain asing dengan kesempatan pemain muda memperoleh jam terbang kompetitif.
Sebelumnya, Olympic Council of Asia (OCA) dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) menerapkan kebijakan berbeda untuk sepak bola putra Asian Games 2026. Peserta kini harus berasal dari negara yang lolos ke putaran final Piala Asia U-23 2026.
Indonesia gagal memenuhi syarat tersebut setelah menempati posisi runner-up Grup J dengan empat poin. Garuda Muda berada di bawah Korea Selatan dan gagal masuk daftar runner-up terbaik pada kualifikasi.
Kondisi tersebut membuat Indonesia kehilangan kesempatan tampil pada sepak bola putra Asian Games 2026 di Jepang. Sementara itu, Vietnam, Thailand, dan Filipina berhasil lolos mewakili Asia Tenggara.
Estu kemudian menyoroti keterkaitan performa kelompok usia dengan penggunaan pemain asing dalam kompetisi domestik selama dua musim terakhir. Menurutnya, jumlah pemain asing yang besar dapat mengurangi kesempatan pemain lokal usia muda memperoleh menit bermain.
“Dua musim terakhir kita bisa memakai 11 pemain asing dalam satu klub Super League. Kegagalan kita di kualifikasi Piala Asia U-23 dan SEA Games 2025 sejak dimulainya kebijakan 11 pemain asing itu,” kata Estu dalam wawancara eksklusif bersama RRI, Jumat, 18 September 2026.
Ia menilai kuota 11 pemain asing di liga domestik mengurangi jam terbang para pemain muda. “Banyaknya pemain asing membuat potensi pemain muda dimainkan sangat kecil sekali,” ujarnya menambahkan.
Estu membandingkan kondisi tersebut dengan Liga Vietnam yang hanya boleh mendaftarkan tujuh pemain asing dalam satu tim. Menurutnya, kebijakan tersebut turut memengaruhi pembinaan pemain usia muda di Vietnam.
Sebagai perbandingan, Vietnam berhasil mencapai semifinal Piala Asia U-23 2026 sebelum dikalahkan Tiongkok 0-3. Vietnam juga pernah masuk empat besar Asian Games 2018 yang diselenggarakan di Indonesia.
Estu menilai kondisi tersebut menjadi pembelajaran bagi federasi sepak bola Indonesia. Menurutnya, pengembangan pemain muda Indonesia saat ini belum maksimal karena kuota pemain asing tersebut.
“Kalau setiap tim punya banyak pemain asing, pemain-pemain muda ini hanya dimainkan sekali atau dua kali, susah bersaing. Karena tentu pelatih juga membutuhkan kemenangan,” ucapnya.
Ia meminta kebijakan kuota pemain asing dapat dikaji ulang, terutama karena berpengaruh terhadap perkembangan pemain muda. Saat ini, hanya Liga Championship yang memiliki kuota pemain muda, sementara di Super League sudah tidak ada.
“Minimal pemain muda bisa bersaing dengan pemain senior. Dan kesempatan mereka untuk memperkuat tim di level kompetitif itu harus ada,” kata Estu.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....