Banding Ditolak, Leicester Kian Terpuruk di Zona Degradasi
- 09 Apr 2026 16:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Leicester City gagal membatalkan pengurangan enam poin akibat pelanggaran aturan finansial EFL.
- Menanggapi hal itu, klub lebih memilih untuk fokus pada sisa pertandingan musim ini.
- Mereka hanya meraih satu kemenangan dari 12 laga terakhir dan terancam turun ke Liga 1 EFL.
RRI.CO.ID, Leicester - Leicester City gagal membatalkan pengurangan enam poin akibat pelanggaran aturan finansial EFL. Hukuman itu memperburuk posisi tim yang terancam turun kasta musim ini.
Sanksi tersebut dijatuhkan oleh komisi independen pada Februari lalu. Akibatnya, Leicester turun dari posisi ke-17 ke posisi ke-20 klasemen.
Sejak itu, performa tim terus menurun hingga masuk zona degradasi Championship. Mereka kini tertinggal satu poin dari zona aman dengan lima laga tersisa.
Kasus ini bermula dari dakwaan Liga Primer Inggris pada Mei 2025 terkait pelanggaran ‘profit and sustainability rules’ (PSR). Leicester didakwa melanggar aturan tersebut pada musim 2023-2024.
Meski didakwa Liga Primer Inggris, kasus tersebut kemudian ditangani EFL setelah klub terdegradasi. Komisi kemudian menyatakan Leicester bersalah melanggar aturan PSR EFL.
Dalam aturan PSR, klub Liga Inggris tidak boleh merugi lebih dari 105 juta pound selama tiga tahun. Namun, batas itu akan berkurang 22 juta pound setiap musim klub bermain di luar kasta tertinggi.
Menanggapi hal tersebut, klub lebih memilih untuk fokus pada sisa pertandingan musim ini. Leicester juga mengakui masa sulit dan berterima kasih kepada pendukung.
“Semua pihak kini fokus pada laga tersisa. Kami tahu ini masa sulit dan kami berterima kasih atas dukungan suporter,” ujar Leicester dalam pernyataan resminya.
Klub juga menegaskan akan menghadapi laga sisa dengan fokus penuh. “Tanggung jawab kami memastikan laga tersisa dijalani dengan fokus dan niat kuat,” ujar klub.
Leicester sebelumnya menyatakan kecewa atas pengurangan poin tersebut. Mereka menilai hukuman itu tidak sebanding dengan pelanggaran yang terjadi.
Dalam banding, Leicester berpendapat penilaian kasus seharusnya memakai periode 36 bulan, bukan 37 bulan. Perbedaan itu terjadi akibat keterlambatan klub dalam menyerahkan laporan keuangan musim 2023-2024.
Komisi akhirnya menetapkan perhitungan tetap menggunakan periode 36 bulan. Dalam rentang tersebut, pengeluaran Leicester melampaui batas EFL sebesar 20,8 juta pound dari limit 83 juta pound.
Klub kemudian mengajukan banding dua pekan setelah keputusan diumumkan. Langkah itu dilakukan kurang dari sehari setelah penunjukan Gary Rowett sebagai pelatih interim hingga akhir musim.
Sejak itu, situasi semakin memburuk bagi juara Liga Primer Inggris musim 2015-2016 tersebut. Mereka hanya meraih satu kemenangan dari 12 laga terakhir dan terancam turun ke Liga 1 EFL.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....