Tarian Bawo Dari Kubar Sarat akan Nuansa Mistis

  • 08 Jul 2024 14:27 WIB
  •  Sendawar

KBRN,Sendawar : Belian Bawo adalah salah satu alternatif cara pengobatan orang sakit yang sudah sejak lama di kenal oleh suku dayak di Kalimantan, salah satunya Dayak Benuaq di Kabupaten Kutai Barat (Kubar) Provinsi Kalimantan Timur.

Namun seiring perkembangan zaman, ritual pengobatan yang di lakukan dengan cara menari tersebut, di kembangkan dan dilestarikan menjadi tarian tradisional di Kutai Barat.

Tidak heran, jika dalam tarian Belian Bawo sekarang terkesan nuansa mistis saat di bawakan oleh para penarinya.

Selain gerakan menarinya sangat menarik untuk dilihat, musik yang mengiringi tariannya juga sangat khas di telinga.

Tarian Belian adalah cerminan dari kekayaan budaya dan spiritual masyarakat Dayak Benuaq di Kutai Barat. Dengan keindahan gerakannya, keunikan kostumnya, dan kedalaman maknanya, Tarian Belian menjadi salah satu warisan budaya yang patut dibanggakan dan dilestarikan.

Melalui berbagai upaya pelestarian, diharapkan Tarian Belian akan terus hidup dan menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Kutai Barat.

Belian Bawo adalah salah satu tarian tradisional suku Dayak di Kalimantan Timur. Nama Belian Bawo berasal dari kata “Belian” yang artinya menyembuhkan orang sakit, dan “Bawo” yang berarti gunung atau bukit.

Tarian ini termasuk yang bersifat mistis, hanya dibawakan oleh para dukun atau pawang.

Tarian Belian Bawo dijumpai dalam berbagai acara adat, biasanya digelar untuk mengobati orang sakit, dibawakan oleh para dukun yang bertindak sebagai medium dari roh yang nantinya akan memberitahukan sakitnya dan cara-cara pengobatan nya.

Selain itu suku Dayak menggelar tari Belian Bawo sebagai ucapan terima kasih kepada dewata sesuai keyakinan mereka.

Dalam melakukan tarian sang dukun/pawang menggunakan bahasa khusus untuk berdialog dengan roh-roh halus (“memang”) yang akan membantunya mengusir roh-roh jahat.

Irama dan ritme pada tari Belian Bawo tidak mentolerir adanya kesalahan, karena akan mengakibatkan kegagalan dalam ritual dan kesurupanya para dukun/pawang yang menari.

Untuk mengembalikan keadaan menjadi normal maka musik harus dinetralkan seperti semula. Ritual yang dilakukan adalah untuk mengambil penyakit.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....