Potensi Wisata Kubar Dinilai Belum Dongkrak Ekonomi Lokal

  • 21 Jan 2026 09:53 WIB
  •  Sendawar

RRI.CO.ID, Sendawar – Ketua Forum CSR Kutai Barat (Kubar), Paulus Kadok, menyoroti kontradiksi antara kekayaan potensi pariwisata daerah dengan kesejahteraan masyarakat lokal. Ia menilai, melimpahnya destinasi wisata di Bumi Tanaa Purai Ngeriman hingga saat ini belum memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan pendapatan asli warga di sekitar objek wisata.

"Potensi pariwisata di Kutai Barat ini tidak sedikit, sangat melimpah. Tetapi pertanyaannya, sampai saat ini mengapa seluruh potensi tersebut belum menjadi sumber pendapatan nyata bagi masyarakat? Ada apa dengan konsep pengembangannya?" ujar Paulus Kadok dalam forum diskusi rencana kerja pemerintah daerah di Sendawar, Senin 19 Januari 2026.

Paulus mendesak Pemerintah Kabupaten Kutai Barat untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap konsep pengelolaan pariwisata. Menurutnya, pengembangan destinasi wisata tidak boleh hanya berfokus pada pembangunan fisik atau seremonial, melainkan harus menyentuh aspek pemberdayaan ekonomi yang melibatkan masyarakat luas.

BACA JUGA:

DPRD Dorong Konsep Jelas Pengembangan Pariwisata Kubar

Ia menekankan bahwa keterlibatan warga lokal adalah kunci agar sektor pariwisata bisa menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru di luar sektor pertambangan. Tanpa keterlibatan aktif warga, mulai dari penyediaan jasa, kuliner, hingga kerajinan objek wisata hanya akan menjadi tontonan tanpa memberikan nilai tambah bagi ekonomi rumah tangga.

"Kita mesti mengacu kepada sektor yang bisa memberikan nilai tambah dan melibatkan banyak orang. Kalau pariwisata dikelola dengan konsep yang benar, maka warga sekitar bisa menghasilkan uang. Ekonomi lokal harus merangkak naik dari sana," ucapnya.

Kritik ini sejalan dengan data kemiskinan Kutai Barat yang masih berada di angka 8,7 persen. Paulus meyakini, jika sektor pariwisata disinergikan dengan penguatan Usaha Kecil Menengah (UKM) lokal, maka sektor ini dapat menjadi solusi jangka panjang untuk menekan angka kemiskinan dan mengurangi ketergantungan pada sektor galian.

Melalui koordinasi dengan Dinas Pariwisata Kutai Barat, diharapkan muncul peta jalan pariwisata yang lebih inklusif. Pemerintah daerah juga diharapkan untuk menciptakan ekosistem pendukung, seperti kemudahan akses transportasi dan pembinaan SDM lokal, agar warga siap menjadi pelaku industri pariwisata yang mandiri dan profesional.

BACA JUGA:

Ribuan Wisatawan Padati Bumi Perkemahan Batu Bura

Perjalanan Wisnus ke Kutai Barat Meningkat Signifikan di Tahun 2025

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik Kaltim, Kutai Barat mengalami lonjakan positif dalam jumlah perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) selama periode Januari hingga September 2025. Data terbaru dari BPS menunjukkan pertumbuhan yang kuat di sektor pariwisata lokal.

Secara kumulatif, total perjalanan wisnus yang tercatat menuju Kutai Barat mencapai 436.019 perjalanan hingga September 2025. Angka ini merepresentasikan peningkatan substansial sebesar 20,31% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2024.

Untuk data bulanan September 2025, tercatat sebanyak 44.064 perjalanan wisnus yang tiba di destinasi ini. Meskipun terjadi sedikit penurunan bulanan sebesar 5,46% dari Agustus 2025, angka September 2025 tetap lebih tinggi 9,86% dibandingkan September tahun lalu.

Hanya saja dokumen BPS berfokus pada data tingkat provinsi untuk kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dan belum merinci angka spesifik wisman untuk Kabupaten Kutai Barat.

BACA JUGA:

Dispar Kubar Rancang Hari Berbudaya Rutin Bulanan

Menanggapi kritik Ketua Forum CSR Kutai Barat terkait minimnya kontribusi sektor wisata terhadap dompet masyarakat, Pemerintah Kabupaten Kutai Barat melalui Dinas Pariwisata menegaskan telah menjalankan serangkaian program strategis. Fokus utama pemerintah saat ini adalah menggeser paradigma pariwisata dari sekadar kunjungan menjadi penggerak ekonomi riil melalui pemberdayaan masyarakat lokal.

Kepala Dinas Pariwisata Kutai Barat, FX.Sumardi menyatakan bahwa pemerintah sangat menyadari pentingnya keterlibatan warga. Sebagai langkah nyata, pembangunan Shelter Wisata Belanja kini tengah diprioritaskan di titik-titik strategis untuk menampung produk kerajinan dan kuliner khas kampung, sehingga wisatawan tidak hanya datang melihat pemandangan, tetapi juga berbelanja produk lokal.

Menjawab isu rendahnya kualitas SDM yang sering dikeluhkan, Dinas Pariwisata secara masif menggelar pelatihan dan sertifikasi bagi tenaga kerja lokal. Upaya ini meliputi pembinaan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan pelatihan pramuwisata profesional bagi pemuda di sekitar objek wisata agar mereka menjadi pelaku utama, bukan sekadar penonton.

Pemerintah juga mulai menyasar sektor Ekonomi Kreatif (Ekraf) sebagai penopang utama pariwisata. Dinas Pariwisata memfasilitasi pelaku Ekraf untuk melakukan hilirisasi produk, seperti pengemasan makanan khas yang lebih menarik serta digitalisasi pemasaran agar produk warga pedalaman bisa menembus pasar nasional melalui platform e-commerce.

Langkah ini diperkuat dengan inventarisasi objek wisata di seluruh kampung guna memetakan potensi unik yang bisa dikombinasikan dengan kearifan lokal. Pembangunan infrastruktur penunjang, seperti sarana kebersihan dan aksesibilitas di destinasi wisata alam, juga terus ditingkatkan melalui anggaran daerah maupun kolaborasi lintas sektor.

BACA JUGA:

Dinas Pariwisata Launching 'Kutai Barat Negeri 1000 Jantur'

Selain itu Dispar Kubar juga terus mempromosikan produk UMKM Lokal hingga menjadikan hari berbudaya yang rutin digalakan setip bulan. Konsep Hari Berbudaya ini dari hasil sinergi antara pemerintah daerah, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Taman Budaya Sendawar, serta Tim Penggerak PKK Kubar. Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi ruang tampil bagi para pelaku seni, sekolah-sekolah, dan perajin dari 16 kecamatan se Kutai Barat.

“Kita ingin menjadikan setiap tanggal 20 sebagai momen rutin untuk merayakan kekayaan budaya sekaligus mendorong perputaran ekonomi lokal. Akan ada stand dari UP2K, Dekranasda, dan perajin umum yang menjajakan produk-produk unggulan mereka,” kata Plt. Kepala Dinas Pariwisata Kubar FX Sumardi, pada Senin, 9 Juni 2025 lalu.

Sinergi ini diharapkan menjadi jawaban konkret atas tantangan kemiskinan dan ketergantungan pada sektor tambang. Dengan ekosistem wisata yang terintegrasi, Pemerintah Kabupaten Kutai Barat optimistis sektor pariwisata akan menjadi pilar baru yang mampu mendongkrak pendapatan asli masyarakat secara signifikan dan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....