Jangan Remehkan Asap Karhutla, Bahaya Mengintai Tubuh

  • 02 Sep 2026 08:24 WIB
  •  Sendawar

RRI.CO.ID, Sendawar - Memasuki Agustus, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai terjadi di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Masyarakat pun diimbau meningkatkan kewaspadaan karena asap karhutla dapat membawa dampak serius terhadap kesehatan, terutama apabila paparan terjadi dalam waktu lama.

Asap karhutla mengandung berbagai zat berbahaya, antara lain partikel halus PM2.5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH), logam berat, serta senyawa toksik lainnya. Melansir laman PPID Kementerian Dalam Negeri, partikel PM2.5 memiliki ukuran sangat kecil sehingga dapat masuk hingga ke alveolus paru-paru, kemudian berpotensi masuk ke aliran darah dan memengaruhi berbagai organ tubuh.

Dalam jangka pendek, paparan asap karhutla dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan. Masyarakat juga dapat mengalami batuk, sesak napas, napas berbunyi, hingga serangan asma. Selain itu, paparan asap dapat memicu sakit kepala, pusing, mual, kelelahan, serta meningkatkan risiko terjadinya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Paparan asap karhutla dalam waktu lama juga berisiko menimbulkan gangguan serius pada paru-paru. Kondisi tersebut dapat menyebabkan penurunan fungsi paru, memperburuk asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan lainnya. Paparan senyawa berbahaya dalam asap juga perlu diwaspadai karena dapat berdampak terhadap kesehatan dalam jangka panjang.

Tidak hanya menyerang sistem pernapasan, partikel PM2.5 juga dapat memengaruhi kesehatan jantung dan pembuluh darah. Partikel tersebut dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan dan berhubungan dengan terjadinya peradangan dalam tubuh yang meningkatkan risiko gangguan irama jantung, penyakit jantung, dan stroke. Sementara itu, karbon monoksida dapat mengganggu kemampuan darah dalam membawa oksigen ke jaringan tubuh.

Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita asma, PPOK, dan penyakit jantung perlu mendapat perhatian khusus. Paparan asap pada anak-anak dapat mengganggu perkembangan sistem pernapasan, sedangkan pada ibu hamil berpotensi meningkatkan risiko gangguan kehamilan. Paparan berkepanjangan juga dapat memengaruhi kondisi psikologis dan dikaitkan dengan meningkatnya stres serta kecemasan.

Untuk mengurangi risiko paparan asap karhutla, masyarakat dianjurkan menggunakan masker yang mampu menyaring partikel halus, seperti N95 atau FFP2, ketika berada di luar ruangan. Aktivitas di luar rumah juga sebaiknya dikurangi saat kualitas udara memburuk. Masyarakat dapat menutup pintu dan jendela, menggunakan penyaring udara dengan filter HEPA, mencukupi kebutuhan cairan, serta mengonsumsi makanan bergizi untuk menjaga daya tahan tubuh. Jika mengalami sesak napas atau keluhan kesehatan yang semakin berat, segera mencari pertolongan medis.

Masyarakat Kalimantan Timur, termasuk di Kutai Barat, diimbau tidak menganggap remeh paparan asap karhutla. Menjaga kesehatan selama musim kebakaran hutan dan lahan menjadi langkah penting, terutama bagi kelompok rentan, karena paparan asap dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan yang serius.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....