Sawah Rapak Oros di Kubar Kini Jadi Semak Belukar, Kementan Minta Pendataan Ulang
- 21 Feb 2026 22:54 WIB
- Sendawar
RRI.CO.ID, Sendawar – Lahan cetak sawah program tahun 2010 di wilayah Rapak Oros, Kecamatan Linggang Bigung, Kabupaten Kutai Barat (Kubar), kini tidak lagi produktif. Sawah yang sebelumnya digadang menjadi penopang produksi padi itu terbengkalai lebih dari lima tahun dan berubah menjadi semak belukar hingga ditumbuhi pohon-pohon besar.
Kondisi tersebut terungkap saat Tenaga Ahli Kementerian Pertanian RI, Anny Mulyani, melakukan tinjauan lapangan dan berdialog langsung dengan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Dinas Pertanian Kubar, Bambang, Sabtu, 21 Februari 2026.
Dalam dialog itu, Anny mempertanyakan keberlanjutan pemanfaatan lahan yang masih tercatat sebagai Lahan Baku Sawah (LBS).
"Sekarang ada program cetak sawah baru di luar LBS, ya? Padahal di dalam LBS masih ada lahan yang tidak fungsional dan tidak ditanami. Itu rencananya mau direhabilitasi atau dibiarkan? Atau justru membuka lokasi baru? Sudah berapa lama sawah-sawah itu tidak dimanfaatkan,” ucap Anny.
Bambang menjelaskan bahwa sebagian lahan memang sudah lama tidak digarap.
"Beberapa sudah lebih dari lima tahun, terutama di wilayah Oros. Sekarang kondisinya sudah menjadi semak belukar, bahkan sudah ada pohon-pohon besar. Dulu itu masuk program cetak sawah sekitar tahun 2010," katanya.

Ia mengakui, persoalan tersebut turut berdampak pada pencapaian target tanam daerah. Menurutnya, data LBS yang dilaporkan ke Kementerian Pertanian belum sepenuhnya sinkron dengan kondisi riil di lapangan.
"Sebenarnya LBS itu kan lahan yang siap ditanami atau sudah ditanami dalam dua tahun terakhir. Sementara kondisi di Kubar, banyak lahan yang masuk data tetapi di lapangan sudah jadi semak belukar. Itu sebabnya ketika Kementerian memberikan target tinggi berdasarkan LBS, kami agak kesulitan,” ujarnya.
Bambang menyebutkan, dari sekitar 2.000 hektare LBS yang tercatat, lahan yang benar-benar aktif kemungkinan tidak sampai 1.000 hektare.
"Kalau mengikuti target dari Kementerian, per bulan itu 156 hektare. Tapi sampai bulan ini, total baru tercapai sekitar 35 hektare. Data LBS Kubar itu sekitar 2.000 hektare, Bu. Tapi kalau disaring lagi, yang benar-benar aktif kemungkinan tidak sampai 1.000 hektare. Bahkan ada contoh di Kecamatan Sekolaq Darat, tepatnya di belakang BPP, itu masuk LBS tetapi lahannya kering dan sebenarnya adalah kebun karet," ucap Bambang.
Selain lahan yang tidak lagi produktif, Bambang juga mengungkap ada sekitar 15 hektare dari total 300 hektare lahan cetak sawah yang telah beralih fungsi menjadi perkebunan sawit, meski lahan kategori LBS tidak diperbolehkan untuk ditanami komoditas tersebut.
Menanggapi berbagai temuan itu, Anny menegaskan pentingnya pendataan ulang secara menyeluruh terhadap lahan hasil cetak sawah, khususnya program tahun 2010 di Rapak Oros.
“Berarti harus dipetakan kembali. Luas cetak sawah tahun 2010 itu berapa, yang masih fungsional berapa, dan sisanya yang sudah tidak produktif harus didokumentasikan serta dilaporkan. Kalau tidak dilaporkan, ini akan berpengaruh pada penilaian,” tegasnya.
Pendataan ulang tersebut dinilai krusial karena berkaitan langsung dengan target Luas Tambah Tanam (LTT) dan penilaian kinerja penyuluh maupun daerah. Jika data LBS masih tercatat aktif namun tidak dimanfaatkan, capaian target tanam akan rendah dan berdampak pada evaluasi kinerja.
Kementerian Pertanian mendorong agar setiap perubahan kondisi lahan, termasuk sawah yang sudah lama tidak digarap atau beralih fungsi, segera dilaporkan melalui sistem yang berlaku.
Dengan evaluasi yang akurat, lahan yang masih berpotensi dapat direhabilitasi, sementara yang tidak memungkinkan dapat dikeluarkan dari data aktif sehingga perencanaan produksi padi di Kutai Barat menjadi lebih terukur dan realistis.